Ruang baca

4 / 4

Bab 3: Pola yang Mengganggu

4.179 kata

Bagian 1: Panggilan Telepon di Pagi Buta

Minggu, 19 Juni 2005, 04:45 WIB

Nokia 3310-nya berdering. Nada monofonik cempreng itu membuat gelas kaca di meja berdenting.

Ayu mengerang, menarik selimut menutupi kepalanya dari udara pagi dan bau kamarnya yang apek.

Getaran itu makin buas. Ia meraba-raba permukaan mejanya, menyenggol tempat pensil hingga jatuh berkerontang. Benda plastik di bawah lengannya hangat. Layar monokrom hijau menyala. "Mira".

"Halo?" suara Ayu serak dan parau.

Sunyi sejenak di seberang. Napas tersengal, deru lalu lintas samar. Lalu suara Mira tercekat sejenak, menarik napas dalam-dalam.

"Maaf bangunin lo, tapi... Yu! Lo di mana? Astaga, lo udah denger?"

Ayu duduk tegak, selimutnya melorot dari bahu, udara pagi langsung menggigit kulitnya. Jantungnya berdentum tak karuan. "Denger apa, Mir? Ini masih pagi buta."

"Sarah, Yu! Sarah!"

Nama itu menggantung di udara pagi yang masam. Dada Ayu langsung sesak. "Sarah kenapa?"

"Kecelakaan, Yu. Angkotnya... angkotnya terguling di turunan Ciumbuleuit tadi malem." Suara Mira tercekat oleh isak tangis yang ditahan. "Katanya rem blong, terus nabrak pohon... Dia... dia kritis, Yu. Sekarang di Rumah Sakit Borromeus. Gue lagi di jalan ke sana."

Dunia Ayu berhenti. Angkot. Terguling. Kritis. Sarah.

Nggak mungkin. Salah sambung. Mimpi.

"Lo salah orang, Mir," kata Ayu. Tenggorokannya kering. "Kemarin gue baru dari Kingsley sama dia. Makan batagor."

"Gue nggak salah, Yu! Ibunya tadi nelpon gue, nangis-nangis. Mereka lagi di jalan dari Jakarta, ngebut." Isak tangis Mira akhirnya pecah, tidak tertahan lagi. "Cepetan ke sini, Yu. Dia... dia butuh kita."

Telepon ditutup. Ayu masih memegang ponselnya. Tumpukan tabung gambar berdiri letih di sudut kamarnya. Bekas selotip menempel di dinding. Kosong.

Bau sampah dari ujung jalan masuk ke dalam angkot. Sopir memutar kaset yang sama dari kemarin di tape deck yang suaranya sumbang. Ayu memalingkan wajah ke jendela, menatap tukang sapu jalanan. Angkot ungu jurusan Cisitu-Tegalega yang bergerak dari arah berlawanan membuat perutnya mulas.

Rumah Sakit Borromeus adalah koridor-koridor putih yang berbau disinfektan dan bunga layu. Lantainya yang licin detergen membuat langkahnya hati-hati, semburan AC menampar kulitnya. Ayu menemukan Mira di depan ruang UGD, wajahnya sembap dan matanya merah. Mereka tidak perlu berkata apa-apa. Pelukan mereka sudah menjelaskan segalanya. Pelukan yang kaku, penyangkalan, dua tubuh yang berusaha saling menopang agar tidak runtuh.

Waktu melambat. Setiap kali pintu UGD terbuka, hembusan udara beku keluar bersama erangan atau langkah kaki tergesa, dan jantung Ayu berhenti. Satu jam kemudian, atau mungkin tiga, atau mungkin sepuluh menit, seorang dokter keluar dengan wajah lelah. Kalimat-kalimatnya teredam oleh dengungan di telinga Ayu. "Pendarahan internal... cedera kepala yang sangat parah... kami sudah berusaha semampu kami..."

Ayu tidak mendengar sisanya. Yang ia dengar hanyalah suara berderit engsel pintu angkot yang ditarik, dan tawa Sarah yang terbawa angin Bandung. Sampai ketemu weekend!

Tante Rina datang dua jam kemudian. Jilbabnya tersingkap miring. Ia tidak menangis saat melihat Ayu, hanya memeluknya keras-keras sampai tulang selangkanya sakit.

"Dia... dia bilang mau nunjukkin foto-foto dari kamu, Yu," bisik Tante Rina, suaranya parau seperti kertas amplas. "Dia seneng banget kemarin. Katanya, 'Ayu itu ngeliat dunia beda, Ma'."

Dan saat itulah tangis Ayu pecah.

Di tengah isak tangis keluarga yang mulai berdatangan, satu pikiran terus berputar di kepala Ayu: rol film di dalam Olympus Pen di meja kamarnya. Kamera yang merekam kemarin sore. Ia harus pulang. Ia harus mencetaknya.

Bagian 2: Rumah Duka di Jakarta

Perjalanan dari Bandung ke Jakarta menyerupai transisi ke dimensi lain. Ayu duduk di dalam shuttle travel Cipaganti, tubuhnya kaku, terjepit di antara seorang bapak-bapak yang tidur dengan mulut sedikit terbuka dan jendela yang berembun oleh AC. Penumpang di depan minta kantong plastik pada supir, mau muntah. Supir mengganti stasiun radio dari dangdut ke berita, tapi sinyal hilang di tanjakan. Di luar, jalan tol Purbaleunyi yang biasanya megah kini hanya lanskap buram berwarna hijau dan abu-abu yang melesat tanpa makna. Setiap mobil yang menyalip, setiap papan iklan rokok yang menampilkan senyum palsu, mengganggu dari dunia lain yang tidak lagi ia pahami.

Ada bau asam bercampur parfum apel basi di dalam kabin mobil. Ayu menekan tas ransel ke perutnya sepanjang jalan, merasakan lekuk keras dari Olympus Pen yang tersembunyi di dalam.

Rumah Sarah di Bintaro gerah karena satu AC mati. Bau kapur barus campur melati menempel di gorden. Di ruang tengah, Sarah dibaringkan, sudah dibungkus kafan.

Di ruang tengah, di antara lautan wajah-wajah sendu berbusana hitam dan putih, jenazah Sarah terbaring, sudah dibungkus kain kafan putih yang bersih. Wajahnya yang damai hanya terlihat sejenak sebelum ditutup kembali, dan pemandangan itu terpatri di benak Ayu, sebuah gambar diam yang menghapus semua kenangan lainnya. Sarah yang tertawa sambil makan batagor sudah tidak ada di sana. Begitu juga Sarah yang melambai dari jendela angkot. Kesunyian. Sebuah akhir. Titik.

Lantunan ayat suci diputar dari sebuah tape recorder. Di sela-sela suara ngaji itu, Ayu mendengar tawa Sarah. Terlalu tinggi, putus-putus. Kaset yang rusak.

Cuma perasaan, batinnya, jantungnya berdebar kencang. Gue cuma kecapean.

Tante Rina memanggilnya, suaranya serak. Ia duduk di sofa, dikelilingi oleh kerabat, tapi matanya hanya tertuju pada Ayu. "Yu, sini, Nak."

Ayu duduk di sampingnya. Tante Rina menggenggam tangannya, jemarinya beku. "Kamu inget, kan, waktu kalian liburan ke Puncak pas SMA?" bisiknya, seolah berbagi rahasia. "Waktu itu Sarah jatuh dari ayunan, terus nangisnya nggak berhenti-berhenti sampai kamu beliin dia es krim."

Ayu mengangguk, ingatan itu muncul dengan jelas. Ayunan kayu yang cat birunya sudah mengelupas di taman hotel.

"Tante inget banget dia ketawa setelah itu," lanjut Tante Rina, matanya menerawang kosong. "Ketawanya itu, lho, khas banget. Berat dan dalam untuk anak perempuan seumuran dia. Bikin kaget."

Ayu merasa perutnya diikat simpul. Rasa beku yang lebih tajam dari tangan Tante Rina merayap di kulitnya. Salah. Ingatan itu salah. Tawa Sarah tidak pernah berat. Tawanya selalu renyah, kadang melengking seperti anak kecil. Itu adalah salah satu hal yang paling Ayu ingat tentangnya.

"Mungkin... mungkin Tante salah inget," kata Ayu pelan, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.

"Masa, sih?" Tante Rina tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ah, mungkin Tante yang sudah mulai pikun. Saking sedihnya, semua jadi kabur." Ia melepaskan tangan Ayu, kembali tenggelam dalam kabut dukanya.

Ayu merasakan getaran hebat. Ada yang janggal. Sarah tidak pernah tertawa seperti itu.

Saat ia mencoba bangkit, Mira menarik lengannya, membisikkan sesuatu. "Yu, kita foto yuk. Buat kenang-kenangan terakhir. Di depan foto Sarah yang itu." Ia menunjuk ke sebuah foto Sarah yang dicetak besar dan dibingkai indah di atas meja, foto kelulusan SMP-nya, tersenyum dengan kawat gigi yang berkilauan.

"Nggak usah, Mir. Gue nggak mood," tolak Ayu, merasa mual.

"Ayolah, Yu. Cuma sekali." Mira sudah mengeluarkan kamera digital Sony Cybershot-nya. Ia menarik Ayu dan beberapa teman dekat lainnya untuk berdiri di depan foto itu. Ayu terpaksa ikut, senyum kaku di wajahnya.

Klik.

Mira melihat hasil fotonya di layar LCD kecil. "Lho, kok aneh?" gumamnya, mengerutkan kening. Ia menunjukkan layar itu pada Ayu. Fotonya buram, tapi hanya di bagian tempat Ayu berdiri. Wajah Ayu terdistorsi, sementara wajah teman-teman lainnya jelas.

"Kamera lo rusak kali," kata Ayu datar, merasa lega ada alasan untuk segera pergi dari situ.

"Masa sih? Perasaan tadi baik-baik aja." Mira mengguncang-guncang kameranya, lalu mencoba memotret lagi. Kali ini ia hanya memotret bingkai foto Sarah. "Nah, kan, kalau ini jelas. Aneh banget."

Saat itulah Ayu melihatnya. Di layar LCD kecil itu, untuk sepersekian detik sebelum Mira mematikan kameranya, foto kelulusan SMP Sarah yang tersenyum itu... kosong. Bingkai itu ada, latar belakang biru studio fotonya ada, tapi wajah Sarah lenyap, digantikan kekosongan berwarna kulit yang rata tanpa fitur. Ayu tersentak, napasnya tercekat.

"Mir, liat lagi!" desaknya, meraih lengan Mira.

"Apaan sih, Yu?" Mira menyalakan kameranya lagi, menunjukkan foto bingkai itu. Wajah Sarah ada di sana, tersenyum ceria. Normal. Sempurna. "Nggak ada apa-apa."

Ayu mundur selangkah, lalu dua langkah. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia takut dadanya akan meledak. Ia butuh udara. Ia butuh cermin. Ia harus memastikan wajahnya masih wajahnya.

Ia setengah berlari ke kamar mandi tamu di dekat dapur, mengunci pintu di belakangnya. Ruangan itu sempit dan berbau pembersih lantai aroma lemon. Ia menatap cermin besar di atas wastafel. Wajahnya ada di sana. Pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata, rambut berantakan. Tapi itu wajahnya. Ia menghela napas lega, mencipratkan air ke wajahnya.

Saat ia mengangkat kepala, menatap bayangannya lagi, sesuatu yang mustahil terjadi. Gerakan bayangan itu... apakah tadi tertunda? Sepersekian detik? Ayu mengerjap. Mungkin matanya yang terlalu lelah.

Ayu terhuyung. Punggungnya membentur pintu. Ia memegang bibir wastafel, mencari napas.

Ia menarik tali ranselnya erat-erat, meraba bentukan besi kamera di dalamnya, lalu keluar dari rumah itu.

Bagian 3: Alkimia di Kamar Gelap

Senin, 20 Juni 2005, 17:00 WIB

Kembali ke Bandung adalah sebuah pelarian. Tapi Ayu tidak tahu dari apa. Di dalam travel, ia tidak lagi melihat lanskap. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap, setengah berharap, setengah takut, kalau-kalau bayangan itu akan tersenyum lagi. Bayangan itu tetap diam, tapi Ayu tahu apa yang telah ia lihat.

Setibanya di Bandung, ia tidak pulang ke kos. Ia berjalan lurus menuju kampus, langkahnya cepat. Ia butuh tempat yang steril. Tempat yang diatur oleh hukum fisika dan kimia yang pasti.

Kamar gelap di ruang lab cuci cetak kampus menyambutnya dengan aroma yang familiar: asam stop bath, amonia tajam fixer, dan logam samar developer bercampur dalam udara. Aroma-aroma ini, yang biasanya membuat mahasiswa lain pusing, adalah parfum paling menenangkan bagi Ayu. Ini bau proses. Di bawah cahaya merah redup dari lampu pengaman, bayangan-bayangan menari. Nampan-nampan kimia berjejer, penjepit kayu tergantung rapi di seutas tali, dan sebuah enlarger berdiri di sudut. (footnote: Developer, stop bath, dan fixer adalah tiga cairan kimia utama yang digunakan secara berurutan untuk memunculkan gambar pada film atau kertas foto. Enlarger adalah proyektor khusus di kamar gelap untuk mencetak foto dari negatif.)

Hanya ada satu orang lain di sana, di sudut terjauh, punggungnya menghadap Ayu. Sosok tinggi kurus yang bergerak tenang. Jaka. Mahasiswa Seni Murni senior yang misterius, yang sering ia lihat di sekitar fakultas, kadang merokok sendirian di lapang merah di tengah gedung FSRD, kadang tenggelam di perpustakaan, wajahnya selalu dihiasi ekspresi melankolis yang seolah memikul beban dunia. Ayu hanya mengangguk singkat ke arahnya. Jaka balas mengangguk, tapi matanya menatap Ayu sejenak lebih lama dari yang seharusnya, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.

Ayu mengabaikannya, fokus pada ritualnya. Ia masuk ke dalam bilik gelap gulita untuk memindahkan film dari tabungnya ke dalam tangki pengembangan. Kegelapan di sini berbeda. Ini kegelapan yang terkontrol, kegelapan yang aman. Dengan mata terpejam, jemarinya yang sudah terlatih bekerja secara mekanis. Membuka kaleng film dengan ujung pembuka botol, merasakan tepi tajam dari film seluloid 35mm, memotong ujungnya dengan gunting kecil, lalu dengan sabar memasukkannya ke dalam reel spiral stainless steel. Setiap klik dan gesekan terdengar nyaring dalam gelap total. Di sinilah ia paling hidup, paling memegang kendali. Kamera Olympus Pen EE-nya tergeletak di meja di luar.

Setelah film aman di dalam tangki kedap cahaya, ia kembali ke bawah lampu merah. Ia mulai mencampur kimianya dengan presisi seorang apoteker, menuangkan cairan dari botol-botol cokelat besar ke dalam gelas ukur. Developer, Stop Bath, Fixer. Tiga bahan kimia yang akan mengungkap gambar-gambar yang tersimpan dalam emulsi perak.

Gelas ukur berisi developer D-76 mendingin di tangannya. Suhu 20 derajat, waktu pengembangan 8 menit. Inilah saatnya. Titik tanpa kembali. Sambil melirik jam dinding besar dengan jarum detik yang menyapu, ia menuangkan developer ke dalam tangki melalui lubang kecil di atasnya.

Saat tetes pertama cairan kimia itu menyentuh emulsi film di dalam kegelapan tangki, sesuatu meledak di dalam kepala Ayu.

Ledakan sensorik di dalam kepalanya. Kilatan cahaya putih menyilaukan membakar matanya dari dalam. Kepalanya dipukul. Rasa sakit yang tajam membuatnya terhuyung ke belakang, menabrak meja dengan keras hingga beberapa penjepit kayu jatuh berkerontang.

Di dalam kilatan putih itu, gambar-gambar muncul dan lenyap dalam sepersekian detik, terlalu cepat untuk diproses tapi meninggalkan jejak mengerikan di benaknya: tumpukan sampah setinggi gunung, wajah-wajah tanpa nama yang menjerit dalam lumpur bisu, bau tanah basah dan daging busuk, lalu klik sebuah angkot biru, lalu klik wajah Sarah yang tertawa, lalu klik wajah Sarah yang sama, tapi matanya terbelalak ngeri, mulutnya terbuka seolah ingin menjerit tapi tidak ada suara yang keluar.

BRUK!

Suara keras dari sudut lain ruangan. Ayu membuka matanya, terengah-engah, pandangannya kabur. Jaka telah menjatuhkan nampan logamnya. Cairan kimia tumpah ke lantai, menguarkan asap tipis. Ia tidak sedang menatap nampan yang jatuh. Ia sedang mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya merah, matanya terpejam kesakitan. Ia merasakan hal yang sama.

Diam berat menyelimuti mereka. Satu-satunya suara adalah desis cairan kimia di lantai dan detak jantung Ayu di telinganya.

Ayu menatap Jaka. Jaka perlahan mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Ayu. Di matanya, Ayu tidak lagi melihat ketenangan melankolis. Ia melihat horor yang sama.

"Barusan..." Ayu memulai, suaranya serak dan gemetar, nyaris tak terdengar. "Kamu... kamu ngerasain juga?"

Jaka mengangguk pelan, masih berusaha mengatur napas. "Seperti... pecahan kaca di dalam otak." Ia menatap tangki pengembangan di tangan Ayu dengan tatapan ngeri. "Itu... dari rol film yang kamu pakai, kan?"

Tangan Ayu gemetar hebat saat ia melakukan agitasi pertama pada tangki pengembang. Ritual yang seharusnya menenangkan. Jaka tidak bergerak dari tempatnya, hanya menatapnya, menunggu. Mereka berdua diam di ruangan itu, terlalu dekat dengan foto-foto yang baru selesai muncul.

Setiap menit menyiksa. Proses pengembangan, penghentian, penetapan, semua dilakukan dalam kabut teror dan di bawah tatapan tajam Jaka. Akhirnya, setelah pembilasan terakhir, ia membuka tangki itu. Dengan napas tertahan, ia menarik keluar reel film yang basah dan berkilauan di bawah cahaya merah. Ia memegangnya erat-erat, tidak berani melihat dulu.

"Aku... aku harus liat," bisiknya.

Bagian 4: Gema yang Salah

Waktu di dalam kamar gelap itu berhenti. Satu-satunya yang bergerak adalah tetesan air yang jatuh perlahan dari penjepit kayu, mendarat di atas genangan cairan kimia di lantai dengan suara yang terlalu keras. Plop. Plop. Plop.

Ayu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari negatif yang ia pegang. Dua Sarah. Satu tertawa, satu ketakutan. Keduanya nyata. Keduanya terperangkap dalam satu strip seluloid.

"Ini nggak bener," bisik Ayu meracau.

Jaka, yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak. Ia mengambil nampan kosong dengan tangan yang sedikit gemetar, mulai membereskan kekacauannya sendiri, gerakannya kaku dan mekanis. "Aku... aku harus pergi," katanya parau, menghindari tatapan mata Ayu. Ia tidak menawarkan penjelasan, tidak mencoba menenangkan. Di wajahnya hanya ada kengerian murni dan dorongan untuk melarikan diri. Ia butuh udara, butuh jarak dari ruangan yang tiba-tiba menyeruak menyesakkan ini, dari anomali yang baru saja terlahir di depan matanya.

Tanpa kata perpisahan, ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar gelap. Pintu menutup di belakangnya. Di dalam, hanya ada cahaya merah, bau bahan kimia, dan kesunyian.

Ayu tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Akhirnya, dengan gerakan seperti robot, ia menyelesaikan prosesnya. Ia hanya punya satu tujuan, satu obsesi: membuat satu-satunya diptik yang penting itu menjadi nyata. Ia harus melihatnya di atas kertas. Ia harus tahu itu lebih dari sekadar hantu di dalam emulsi film. Ia mencetak satu foto itu, diptik yang mustahil. Lalu ia dengan hati-hati mengumpulkan semua strip negatif dan satu-satunya hasil cetakan itu, memasukkannya ke dalam amplop besar, dan berjalan keluar dari kampus, melintasi malam Bandung yang terasa asing dan mengancam.

Sesampainya di kamar kos, ia tidak menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu meja yang cahayanya kuning dan sakit. Dunianya telah menyempit menjadi satu objek: foto 4R yang masih sedikit lembap di tangannya. Ia menempelkannya di dinding gabus di atas mejanya, terpisah dari yang lain.

Di sana, di bawah cahaya lampu, dua Sarah menatapnya. Yang satu dengan kehangatan dan kehidupan, yang satu lagi dengan teror bisu. Foto itu adalah sebuah paradoks. Sebuah anomali yang mengerikan. Tapi setidaknya, pikirnya, itu masih berada dalam kerangka dunianya yang berduka. Sarah ada. Teman-temannya ingat. Pemakaman itu nyata. Foto ini hanyalah sebuah keajaiban yang menyakitkan, sebuah gema visual dari tragedi itu. Begitulah yang ia coba katakan pada dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar di atas meja, suaranya yang kasar merobek keheningan. Sebuah SMS masuk. Dari Mira.

Dengan napas lega, ia meraih ponselnya. Sebuah kontak dari dunia nyata. Sebuah jangkar, atau setidaknya, ia berharap begitu. Mira jarang menghubungi malam-malam begini. Mungkin ada kabar dari keluarga Sarah.

Dari: Mira Yu, bbrp hari lalu lo ke Kingsley sama siapa? Gue liat dari jauh ada yg duduk di depan lo tp nggak keliatan jelas.

Ayu mengerutkan kening. Beberapa hari yang lalu? Pikirannya langsung melompat ke pemakaman. Kenapa dia nanyain ini? Kan kemarin kita ketemu di rumah Sarah.

Jarinya yang sedikit gemetar mengetik balasan, nadanya sedikit bingung dan jengkel.

Untuk: Mira Sama Sarah lah. Lo kan tau. Aneh bgt lo nanyanya.

Ia menekan 'Kirim'. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Ia menunggu. Layar ponselnya tetap kosong terlalu lama. Lima detik. Sepuluh. Lalu balasan masuk.

Dari: Mira Sarah? Siapa tuh? Temen baru lo ya?

Darah serasa surut dari wajah Ayu. Ia membaca pesan itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Kata-kata itu tidak berubah. Siapa tuh? Tawa beku dan kosong menggema di dalam kepalanya. Ini pasti bercanda. Mira pasti sedang iseng.

Tangannya bergerak dengan sendirinya, menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, lalu diangkat.

"Halo?" Suara Mira terdengar mengantuk.

"Mir, ini gue," kata Ayu cepat, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Lo jangan bercanda, deh. Nggak lucu."

"Bercanda apaan sih, Yu? Lo kenapa? Ini udah malem."

"Sarah! Lo barusan nanya Sarah siapa? Sarah Dewi, sahabat kita dari TPB!" Suara Ayu mulai meninggi, diwarnai kepanikan.

Keheningan sejenak di seberang. Ayu bisa mendengar suara siaran televisi yang sayup-sayup. "Yu," kata Mira akhirnya, nadanya hati-hati. "Gue... gue nggak kenal sama yang namanya Sarah Dewi. Serius. Lo baik-baik aja, kan? Lo nggak lagi mabok atau gimana?"

"Gue nggak mabok!" jerit Ayu, kini tidak bisa menahan diri. "Kita baru aja dari pemakamannya di Jakarta kemarin lusa! Lo nangis di pelukan gue di depan UGD Borromeus! Lo nggak inget?!"

"Pemakaman? Jakarta?" Suara Mira kini terdengar benar-benar khawatir. "Astagfirullah, Yu. Kemarin lusa kan kita ngerjain tugas ilustrasi di kosan gue sampe malem. Kita pesen nasi goreng, inget nggak? Lo bahkan nginep sini karena udah kemaleman."

Setiap kata dari Mira adalah pukulan. Nasi goreng. Tugas ilustrasi. Ingatan Mira tentang beberapa hari terakhir terasa nyata, detail, dan sama sekali berbeda dengan ingatan Ayu.

"Nggak... itu nggak bener..." bisik Ayu, lebih pada dirinya sendiri.

"Yu, udah ya," kata Mira dengan nada lembut yang dibuat-buat, nada yang membuat Ayu merasa seperti orang gila. "Lo istirahat aja. Mungkin lo kecapean. Besok kita ngobrol lagi di kampus, ya."

Telepon ditutup.

Ayu menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Panggilan-panggilan berikutnya hanya mengonfirmasi horor itu. Kebingungan. Ketidaktahuan. Dan yang paling mengerikan, kepedulian yang salah arah, kepedulian terhadap dirinya, terhadap kewarasannya yang mereka anggap telah retak. Mereka tidak terdengar berbohong. Justru itu yang membuat Ayu mual. Hanya sebuah dunia yang berfungsi sempurna tanpa ada ruang untuk seorang gadis bernama Sarah Dewi.

Pikiran terakhirnya yang putus asa adalah mencari jejak digital.

Ia menyambar jaketnya dan berlari keluar. Malam sudah larut, tapi ia tahu ada satu tempat yang selalu terjaga oleh dengungan komputer dan bau rokok. Warnet 24 jam di ujung jalan.

Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh puluhan layar CRT yang berkedip. Udara pengap oleh asap rokok dan bau pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras. Dengan tangan gemetar, ia membayar satu jam pada operator yang mengantuk, lalu duduk di bilik paling sudut. Jarinya yang beku mengetik alamat yang sudah ia hafal: www.friendster.com. Login page memuat lambat. Ia mengetik username dan password, salah. Coba lagi, tangan masih gemetar, salah lagi. Kali ketiga baru berhasil.

Halaman itu memuat dengan lambat, gambar-gambar profil yang norak dan glitter berkedip-kedip. Ia mengetik nama "Sarah Dewi" di kolom pencarian. Hasilnya muncul. Ada beberapa nama Sarah Dewi. Jantungnya berdebar penuh harapan yang menyakitkan. Ia mengklik profil pertama, sebuah profil dengan foto siluet abu-abu standar. Mungkin dia cuma ganti foto, batinnya, sebuah kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Profil itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada teman. Tidak ada testimoni. Tidak ada foto. Hanya nama dan kekosongan.

Ia mencoba profil lain. Hasilnya sama. Kosong. Kosong. Kosong.

Dengan napas tertahan, ia mencoba cara lain. Ia membuka profilnya sendiri, mengklik daftar teman-temannya. Ia menggulir ke bawah, mencari huruf 'S'. Rian, Rina, Sandi... seharusnya ada Sarah di antara mereka. Tapi tidak ada. Lubang itu begitu rapi, seolah tidak pernah ada isinya.

Ayu mendorong kursinya ke belakang dengan kasar, menimbulkan bunyi derit yang membuat beberapa kepala menoleh. Ia tidak peduli. Ia berjalan keluar dari warnet, meninggalkan sisa waktunya yang masih berjalan di layar. Udara malam yang sejuk menghantamnya, tapi tidak mampu mendinginkan api panik yang membakar dari dalam.

Perjalanan pulang adalah neraka.

Saat akhirnya ia sampai di depan gerbang kosnya, ia hampir tidak mengenalinya. Bangunan itu miring, sedikit bengkok. Ia harus memaksa tangannya yang gemetar untuk membuka gerbang.

Sesampainya di dalam kamar, ia membanting pintu dan menguncinya, punggungnya bersandar di pintu, terengah-engah. Ia selamat. Tapi selamat dari apa? Dari dunia di luar, atau dari pikirannya sendiri?

Di kamar yang ia kunci dari siapa pun itu, Ayu mulai mencari bukti fisik. Pelan-pelan ia mengerti: kamera itu bukan sekadar alat potret. Ia telah kembali dari pemakaman seseorang yang, menurut seluruh dunia, tidak pernah ada. Ia menatap sekeliling kamarnya. Buku yang dipinjamkan Sarah minggu lalu telah lenyap dari mejanya. Gantungan kunci kodok Kero Keroppi dari Cihampelas yang mereka beli bersama tidak lagi tergantung di kunci kosan-nya. Setiap jejak fisik sahabatnya telah diamputasi dari realitas, meninggalkan luka hantu yang hanya bisa ia rasakan. Dan satu-satunya bukti keberadaan sahabatnya kini tergeletak di atas meja, sebuah diptik mustahil yang menertawakan kewarasannya.

Bagian 5: Mosaik Negatif

Senin, 20 Juni 2005, 23:00 WIB

Pikiran Ayu berpacu. Jika Sarah tidak ada, lalu siapa yang ia tangisi? Apakah ia sudah gila?

Tapi kemudian matanya tertuju pada amplop besar di atas meja. Bukti.

Didorong oleh energi putus asa, ia mengeluarkan isinya. Satu lembar foto 4R yang mengerikan, dan beberapa gulungan seluloid yang panjang dan hitam. Negatifnya. Dengan tangan gemetar, ia membentangkan strip-strip film itu di atas mejanya, ujungnya ia tindih dengan buku dan botol tinta agar tidak menggulung kembali. Di bawah cahaya lampu meja, 72 bingkai kecil itu jendela-jendela mini, warnanya terbalik, wajah-wajahnya hantu.

Ia harus tahu. Ia harus melihat semuanya. Ia meraih kaca pembesar murah, alat yang biasa ia gunakan untuk memeriksa detail tipografi, dan mulai melakukan proses yang lambat dan menyiksa. Ia mencondongkan tubuhnya, satu mata tertutup, memindai setiap bingkai kecil, satu per satu.

Ia memulainya dari awal. Pemandangan kota, tumpukan sampah, orang-orang asing. Biasa saja.

Lalu, matanya terpaku pada sebuah diptik di tengah salah satu strip. Di salah satu strip pertama, sesosok hantu pucat, Rian, yang sedang mengernyitkan dahi di dalam kelas, satu tangan memegang pelipisnya. Di bingkai berikutnya, sebuah botol obat yang warnanya terbalik, putih di atas latar hitam.

Jantungnya mulai berdebar lebih kencang. Ia ingat. Keesokan harinya Rian tidak masuk kuliah karena demam tinggi. Waktu itu, Ayu hanya berpikir, "Kebetulan sekali." Kini, kata "kebetulan" kebohongan naif.

Tangannya gemetar saat ia menggeser strip film berikutnya ke bawah cahaya. Diptik lain yang ia ingat. Satu frame adalah hantu dosennya yang galak, Pak Hendra. Frame di sebelahnya adalah gambar paku besar berkarat yang tertancap di ban mobil. Ayu menahan napas. Ia ingat. Ya Tuhan, ia ingat. Pak Hendra datang terlambat ke kelas, marah-marah karena bannya bocor. Itu bukan nasib buruk. Itu adalah keinginannya yang terwujud.

Ia pikir ia sedang menangkap realitas. Padahal, ia sedang menciptakannya.

Ia menggeser film ke strip saat dia di Braga. Di pertengahan rol, ia menemukan diptik yang menghantuinya. Seorang pria paruh baya tak dikenal, duduk sendirian di bangku di Jalan Braga. Dalam negatif, air matanya goresan hitam di wajahnya yang pucat. Ayu ingat gelombang empati yang kuat saat memotretnya.

Di bingkai sebelahnya adalah lalu lintas yang ramai, buram. Sebuah truk sampah besar berwarna oranye, monster pucat yang kabur.

"Aku memotretnya karena aku merasa kasihan," bisik Ayu.

Lalu ia teringat sesuatu. Sebuah koran lokal yang ia beli beberapa hari setelah mengambil foto itu, hanya karena ada artikel tentang pameran fotografi yang menarik perhatiannya. Di mana koran itu? Ia mencarinya dengan panik, mengobrak-abrik tumpukan buku dan kertas di bawah mejanya. Akhirnya ia menemukannya, sudah lecek. Pikiran Rakyat, edisi beberapa hari yang lalu.

Ia membukanya dengan tergesa, jemarinya merobek sedikit kertas yang sudah rapuh itu. Ia menemukan artikel pameran itu. Dan di halaman yang sama, di sudut bawah, ada sebuah berita kecil. Sebuah kolom singkat yang hampir ia lewatkan. Judulnya: "Pria Tanpa Identitas Tewas Tertabrak di Braga".

Jantung Ayu serasa berhenti berdetak.

Ia membaca artikel itu, matanya melompat dari satu kata ke kata lain. "...diduga menyeberang jalan tanpa melihat... tertabrak truk sampah yang sedang berbelok... tewas di tempat... tidak ditemukan identitas..."

Ia membandingkan foto buram di koran dengan gambar hantu di negatif filmnya. Pakaiannya sama. Postur tubuhnya yang agak membungkuk. Itu dia. Pria yang menangis itu.

Kaca pembesar di tangannya bergetar. Ia menatap kamera Olympus Pen EE di sudut mejanya. Benda kotak dengan lensa sebesar koin itu berdiam.

Ia merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada ranjang. Di atas mejanya, strip-strip negatif terhampar, dan satu-satunya foto yang tercetak, diptik Sarah, menatapnya dari dinding.

Satu nama. Jaka. Satu-satunya orang lain yang merasakan ledakan di kamar gelap.

Ia harus menemukannya.

Catatan pembaca awal

Jika tiga bab ini meninggalkan sesuatu, tuliskan jejaknya.