Ruang baca

3 / 4

Bab 2: Diptik Sarah

2.424 kata

Bagian 1: Kamar Kos Sebagai Ruang Memori

Sabtu, 18 Juni 2005, 15:05 WIB

Sehari setelah petualangan singkat mereka di Braga, dunia Ayu sedikit lebih lapang. Suara klakson angkot dan deru motor dari Jalan Dago terdengar samar, bercampur dengan teriakan pedagang kaki lima. Tumpukan sampah di ujung gang masih menggunung, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sarah akan datang, sesuai janji di SMS yang ia kirim tadi malam. Ia bilang mau mengantarkan "harta karun" majalah bekas yang ia baru beli kemarin, sekalian nongkrong.

Sejak pagi Ayu gelisah, membereskan kamarnya yang pengap. Tumpukan kertas Canson yang sudah menguning ia geser dari atas kasur ke bawah meja, menyembunyikan tabung gambar di balik pintu yang tak bisa lagi menutup rapat, mengelap debu arang tipis di hampir setiap permukaan. Bahkan setelah dibersihkan, kamar itu masih menyimpan jejak perjuangan mahasiswa seni: noda cat poster di dinding, bau fixative (footnote: Cairan pelindung (coating) yang disemprotkan pada karya seni seperti gambar arang atau pensil agar tidak luntur atau kotor.) yang menyengat, dan aroma Indomie rebus yang sudah menyerap ke dalam kasur.

Mainan barunya itu ia letakkan di meja, di samping tumpukan buku tebal Janson's History of Art yang belum pernah ia baca sampai habis. Kamera itu ia taruh di meja, mencolok di antara buku dan kertas kusut. Lensa peraknya memantulkan cahaya sore yang menyaring masuk melalui jendela yang berdebu.

Pintu kosnya diketuk tiga kali, ketukan khas Sarah yang tidak sabaran.

"Akhirnya dataaang!" kata Ayu, senyumnya mengembang tanpa bisa ditahan.

Sarah Dewi menerobos masuk, sudah seperti rumah sendiri. Tas kanvas lusuhnya yang penuh dengan stiker band indie ia lempar ke kursi, lalu langsung merebahkan diri di kasur Ayu dengan gerakan yang sudah hafal. Kakinya diayun-ayunkan di udara, sepatu Converse hitam yang sudah pudar ia lepas tanpa diikat terlebih dahulu.

"Gila, kosan lo baunya masih sama," candanya sambil menghirup udara kamar dengan dramatis. "Campuran bau fixative sama Indomie rebus. Ditambah... apa sih? kegalauan eksistensial?"

Sarah cengengesan sendiri. Leluconnya kedengaran garing, tetapi Ayu tetap tertawa sambil melempar bantal ke arahnya. "Lo lebay."

"Gue serius! Ini bau khas anak DKV yang lagi krisis." Sarah menggulung-gulung tubuhnya di kasur, mencari posisi nyaman. "Tapi gue kangen sih. Inget nggak, waktu TPB (footnote: Tahap Persiapan Bersama (TPB) adalah program tahun pertama di ITB di mana seluruh mahasiswa baru dari berbagai fakultas, termasuk FSRD, mengikuti mata kuliah dasar yang sama sebelum masuk ke jurusan masing-masing.)* dulu kita sering begadang di kamar gue? Nyokap sampe ngamuk karena kamarnya bau cat poster."

Matanya langsung tertuju pada kamera Olympus Pen yang tergeletak di meja. Ekspresinya berubah, mata cokelatnya berbinar karena penasaran. "Eh, gimana hasil jepretan kemarin di Braga? Udah lo cuci cetak?"

Ayu mengambil kamera itu, mengusap bodinya seolah mencari keberanian. "Belum. Filmnya masih setengah jalan. Tapi gue rasa ada beberapa frame yang... beda. Nanti kalau udah penuh, kita ke lab bareng, ya?"

Sarah mengangguk antusias, lalu meraih tas kanvasnya yang tadi ia lempar ke kursi. Ia mengeluarkan dua majalah kusam: Harper's Bazaar edisi 1999 dan Vogue Italia edisi entah kapan, keduanya beraroma kertas tua. "Nih! Harta karun dari kemarin. Cover-nya udah belel, tapi motif kain di dalamnya gila banget. Pas buat referensi tugas gue."

"Worth it banget dong," Ayu tersenyum, lega topik bergeser. Ia meletakkan kamera kembali di meja.

"By the way," Sarah merapatkan duduknya, nada suaranya turun setengah oktaf, "lo kemarin tiba-tiba ilang pas gue masih bongkar majalah. Gue SMS, lo jawab singkat banget. Kenapa?"

Ayu mengangkat bahu. "Keasyikan motret. Sempet pusing juga, mungkin dehidrasi. Tapi sehat kok."

Sarah menunjuk kamera. "Pokoknya kalau filmnya udah jadi, gue harus jadi orang pertama yang lihat, ya!"

Ia lalu duduk tegak, menatap Ayu dengan mata yang hangat dan penuh perhatian. "Ngomong-ngomong tugas lo, masih dikomentarin 'kurang rasa' sama Pak Hendra?"

Ayu mengangguk, dadanya sedikit sesak mengingat kritik-kritik pedas dosennya. "Begitulah. Kayaknya gue nggak pernah bisa bikin dia puas."

"Omong kosong," kata Sarah dengan nada yang tegas tapi lembut. "Gue kenal lo dari jaman kita masih polos banget, Yu. Lo itu punya mata yang bisa liat keindahan di tempat yang orang lain cuma liat sampah. Jangan biarin mereka bikin lo lupa soal itu."

Sarah bangkit dari kasur, berjalan ke jendela yang menghadap ke gang sempit. Dari sana, tumpukan sampah di ujung gang adalah gunung kecil dari kantong plastik hitam dan kardus basah. "Liat tuh," katanya, menunjuk ke pemandangan itu. "Orang normal liat sampah. Lo liat komposisi, kontras, cerita. Itu gift, Yu. Jangan sia-siain."

Kata-kata itu menghantam sesuatu dalam dada Ayu. Ia mengangkat kameranya, membingkai siluet Sarah yang berdiri di depan jendela, cahaya sore yang menerobos rambut cokelatnya yang diikat asal-asalan.

Klik. Zrr-t. Klik.

"Eh, difoto!" protes Sarah manja, berbalik dengan senyum yang lebar. "Belum siap! Muka gue lagi jelek!"

"Nggak ada yang jelek dari lo," kata Ayu tulus. "Lagian, nggak ada ulangan di fotografi analog. Sekali klik, udah."

Sarah tertawa. "Filosofis banget lo, Yu. Kayak iklan rokok."

Bagian 2: Retakan dalam Kepercayaan Diri

Mereka kembali ke kasur, duduk berhadapan dengan kaki bersilang. Sarah mengeluarkan sebungkus kerupuk dari tasnya, makanan ringan yang sudah menjadi ritual mereka sejak TPB.

"Inget nggak sih pas TPB dulu, tugas Nirmana 2D?" (footnote: Mata kuliah dasar fundamental di FSRD yang melatih kepekaan terhadap elemen-elemen visual dasar seperti garis, bidang, warna, dan komposisi. Dikenal sangat menantang dan menyita waktu.) kata Sarah sambil membuka bungkus kerupuk. "Kita begadang semaleman di studio bareng anak-anak lain, cuma buat nempelin potongan kertas hitam di atas kertas putih."

Ayu tersenyum tipis, kenangan itu mendekat begitu nyata. "Rasanya pengen nangis, kan? Udah begadang, udah pusing, udah keluar duit buat beli kertas, eh dicoret doang."

"Waktu itu kita masih sama-sama takut soal penjurusan," lanjut Ayu, suaranya lembut. "Gue inget banget lo nenangin gue pas nilai Rupa Dasar gue dapet C. Gue udah nangis-nangis takut nggak masuk DKV."

Sarah terdiam sejenak, mengunyah kerupuk dengan pelan. Ia menatap Ayu dengan hangat. "Jelas gue inget. Gue sampe mikir, gila juga ya. Setelah tiga tahun pisah pas SMA, lo di Semarang, gue di Jakarta, akhirnya kita bisa satu kota lagi buat kuliah... eh, malah hampir dipisahin lagi sama nilai Nirmana," candanya, mencoba meringankan suasana. "Untung aja kita berdua sama-sama kuat mentalnya buat dibantai pas TPB."

Tawa kecilnya mereda. Bayangan keraguan yang jarang ia tunjukkan kembali muncul. "Tapi kadang gue mikir, Yu," katanya dengan suara yang lebih pelan, "gue bener-bener bisa nggak sih di dunia ini?"

"Maksudnya..." Sarah menatap keluar jendela, menghindari mata Ayu. "Lo tau kan, gue masuk Kriya karena... ya, karena gue suka warna-warna cerah aja. Nggak sedalam lo yang dari kecil udah obsesi sama komposisi dan cahaya. Kadang gue merasa kayak... ikut arus aja."

"Jangan gitu, Sar."

"Serius, Yu." Sarah berbalik, matanya berkaca-kaca. "Kemarin nyokap nelpon dari Jakarta, ngomongin masa depan. Dia bilang, 'Sar, kamu yakin mau jadi desainer motif kain? Penghasilannya nggak jelas, masa depannya gimana?' Dan gue..." Sarah diam sejenak, menggigit bibir bawahnya, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat gugup. "Gue nggak bisa jawab, Yu. Gue nggak tau apa yang gue mau. Kadang gue bangun pagi, liat cermin, dan mikir: 'Lo mau jadi apa sih sebenernya?'"

Napas Ayu tercekat; sahabatnya yang biasanya ceria kini rapuh. "Sarah..."

"Gue takut, Yu," bisik Sarah. "Takut ternyata gue cuma anak yang suka main-main sama benang dan kain. Takut lima tahun lagi kita ketemu, lo udah jadi fotografer terkenal, sementara gue..." Suaranya terputus. Ia mengusap mata dengan punggung tangan, eyelinernya mulai luntur. "Entah jadi apa."

Dadanya sesak. Sahabatnya ini, yang selalu jadi pelipur lara semua orang, ternyata menyimpan ketakutan yang sama. "Sar, denger gue," kata Ayu dengan suara lembut. "Lo itu orang yang paling kreatif yang gue kenal. Lo bisa liat keindahan di mana-mana. Ingat nggak, waktu lo bikin syal dari benang bekas yang lo beli di pasar? Itu karya seni, Sar. Beneran."

Sarah menatap Ayu, matanya masih basah. Ia tersenyum kecil, seolah malu sudah bicara sejauh itu. "Lo serius?"

"Gue nggak pernah bohong sama lo."

Momen itu terlalu intim. Matanya memanas. Untuk menyembunyikan getaran di bibirnya, ia mengangkat kamera lagi. Ia membingkai wajah sahabatnya yang kini tersenyum setengah malu, cahaya sore yang menerobos jendela menciptakan rim light di sekitar rambutnya.

Klik.

"Udah, laper," kata Ayu dengan suara yang sedikit serak, berusaha mengalihkan suasana. "Batagor, yuk?"

Sarah mengusap matanya cepat, senyumnya kembali muncul. "Nah, itu baru ide bagus! Gue udah ngidam batagor Kingsley dari tadi pagi."

Bagian 3: Momen yang Terekam & Gangguan Halus

Dengan Sarah di sisinya, bahkan berjalan menyusuri Jalan Dago yang trotoarnya sudah menyempit karena tumpukan karung sampah pun jadi petualangan. Sarah punya cara unik untuk melihat dunia. Ia selalu menemukan sesuatu yang lucu atau menarik dalam situasi yang paling biasa sekalipun.

Batagor Kingsley di Jalan Veteran masih sama: warung sederhana dengan meja plastik, bangku kayu yang sudah lusuh, aroma saus kacang yang tercampur bau ikan tenggiri goreng. Lap meja lengket sisa saus dari pelanggan sebelumnya, sendok seng beradu 'klung' tiap kali Pak Udin aduk kuah. Dari radio lama di sudut warung, suara penyiar menemani suasana sore.

"Pak, dua porsi batagor, satu es teh manis, satu es jeruk," pesan Sarah dengan familiar. Pemilik warung, Pak Udin, tersenyum mengenali mereka.

Sambil menunggu pesanan, suara radio mengalir pelan: "...Walikota Bandung Dada Rosada kembali menjanjikan penyelesaian krisis sampah pascatragedi TPA Leuwigajah. Warga diminta bersabar karena pemerintah sedang mencari lokasi pembuangan sementara..."

Sarah mendengus. "Bersabar lagi, bersabar lagi. Udah berapa kali dia bilang gitu?"

"Sejak Februari kan?" sahut Ayu. "Udah hampir setengah tahun."

"Gue yakin dia cuma ngomong doang. Liat aja, sebulan lagi pasti keluar statement yang sama lagi."

Mereka duduk di bangku favorit, yang menghadap ke jalan. Suasana sudah kembali cair, Sarah kembali menjadi dirinya yang ceria. Ia bercerita tentang tugas terbarunya, sebuah kain dengan motif yang terinspirasi dari pola-pola geometris yang ia lihat di jalanan.

Saat batagor mereka datang, Pak Udin salah. "Es teh untuk meja sebelah, yang jeruk buat kalian," katanya sambil meletakkan gelas.

"Eh, Pak, kebalik," protes Sarah ramah.

"Aduh, maaf, maaf." Pak Udin tukar gelas, tetapi sedikit es jeruk tumpah ke celana Ayu. Bercak basah kecil di pahanya, aroma asam samar.

"Ah, gapapa kok, Pak," kata Ayu cepat, melihat wajah bersalah Pak Udin.

Sarah sudah siap dengan tisu, membantu mengelap. "Noda di celana jeans itu kayak patina, Yu. Makin banyak makin berkarakter."

Mereka tertawa kecil. Nokia 7610 Sarah bergetar di meja. Bentuknya yang aneh seperti ketupat selalu menarik perhatian (footnote: Nokia 7610, dirilis tahun 2004, adalah ponsel yang sangat populer dan ikonik pada masanya karena desainnya yang asimetris dan unik, sering dijuluki "ponsel ketupat" di Indonesia.)*. Sarah cek layar, teks operator TELKOMSEL muncul dan bar sinyal berkedip. "Nyokap nanya udah makan belum," katanya sambil balas SMS cepat.

Suasana kembali hangat. Di momen itulah Ayu melihatnya. Cahaya matahari sore menerpa wajah Sarah, membuat matanya berbinar saat ia tertawa lepas, suaranya renyah dan sedikit melengking. Ayu selalu suka tawa itu. Apa adanya. Dadanya sesak. Ia ingin membekukan momen ini.

Ia mengangkat kamera. Gerakannya pelan, hampir otomatis. Di jendela bidik, wajah Sarah memenuhi bingkai. Tapi ada getaran aneh di tepi pandangannya.

Ia menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Ia menahan napas dan mengarahkannya melalui lensa.

Klik.

Saat rana berbunyi, seluruh kehangatan itu disentak keluar dari tubuhnya. Dadanya dingin.

Tepat pada saat itu, sebuah angkot Carry melintas, deru mesinnya yang memekakkan telinga merobek udara. Knalpotnya meletup-letup. Getarannya sampai ke bangku mereka.

Momen itu pecah, tapi sesuatu yang lain mengambil alih. Kamera di tangannya bergetar hebat, dari dalam. Tarikan itu datang lagi. Tarikan yang kuat memaksa lengan Ayu bergerak, jendela bidik memburu angkot hijau yang mulai menjauh.

Jarinya, tanpa perintah, menekan tombol rana untuk kedua kalinya.

Klik.

Jepretan kedua mengunci bayangan buram angkot itu. Getaran di kamera berhenti. Tarikan itu lenyap. Ayu menurunkan tangannya yang gemetar, pusing. Ada bau logam terbakar yang samar di udara.

"Berisik banget euy tuh angkot," gerutu Sarah, sama sekali tidak menyadari jeda aneh dalam perilaku sahabatnya. "Knalpotnya udah mau jebol kali."

Ayu hanya bisa mengangguk, mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi dan menelan rasa mualnya bersama potongan batagor terakhir.

Kamera di pangkuannya lembap dan hangat.

Bagian 4: Pulang

Mereka menghabiskan sore itu hingga langit mulai menggelap, meninggalkan piring kosong dan gelas es yang sudah cair. Saat tiba waktunya pulang, mereka berpisah di pinggir jalan.

"Gue naik dulu ke yang ke arah Dago dari sini aja," kata Sarah, menunjuk ke seberang jalan di mana beberapa angkot sudah mulai berhenti untuk mencari penumpang.

Tapi sebelum beranjak, Sarah tiba-tiba memeluk Ayu erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya, lebih erat. Ayu merasakan kehangatan tubuhnya, aroma sampo strawberry yang selalu ia pakai.

"Thanks for today*, Yu," bisik Sarah di telinga Ayu. "Udah lama kita ga ngobrol kayak gini. Dan... thanks udah dengerin gue curhat tadi. Lo selalu tau cara bikin gue merasa lebih baik."

Ia melepaskan pelukannya dan menatap mata Ayu. Sarah lebih ringan.

"Eh, jangan lupa ya, weekend depan lo main ke Jakarta. Nyokap udah nanyain lo terus, katanya kangen anak keduanya. Dia udah siapin ayam goreng spesial buat lo. Dan gue mau tunjukin karya terbaru gue, yang motif geometris itu. Gue yakin lo bakal suka!" Matanya berbinar saat bicara soal karyanya.

Keluarga Sarah memang selalu menganggap Ayu seperti anak sendiri. Setiap lebaran, ketika Ayu tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah karena ongkos, keluarga Sarah-lah yang jadi keluarga pengganti.

Ayu tersenyum, dadanya hangat. "Pasti. Salam buat Tante ya. Bilang aku kangen masakan dia."

"Lo hati-hati di jalan, ya!" seru Sarah sambil mulai menyeberang, langkahnya ringan dan penuh energi. "Jangan lupa isi testimonial gue di Friendster! Yang panjang, jangan cuma 'Thanks for being my friend' doang! Ceritain betapa kerennya gue!"

"Kamu juga!" balas Ayu, tertawa melihat kepercayaan diri Sarah yang kembali menggelegar. "Awas diculik sopir angkot!"

"Gapapa kali, yang penting supirnya ganteng!" Sarah balas teriak sambil nyengir lebar dari seberang jalan. "Kayak Ariel Peterpan!"

"Iya, tapi yang versi supir angkot!" Ayu tertawa, kali ini tawanya ringan dan tulus.

Sebuah angkot Kalapa–Dago berwarna hijau berhenti tepat di depan Sarah. Pintu gesernya terbuka dengan bunyi berderit. Sarah naik dengan gesit, tetapi sebelum duduk, ia sempat nyengir dari pintu angkot. "Yu! Lo jangan lupa nanti kalo udah dicuci cetak kabarin ya! Gue pengen liat hasilnya!"

"Pasti!" seru Ayu.

Sarah akhirnya duduk dan melambai dari jendela yang terbuka. Sarah tersenyum dari dalam angkot, matanya masih berbinar.

"Sampai ketemu weekend!" teriaknya dari dalam angkot.

Angkot itu melaju perlahan, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai mengendur. Ayu berdiri di trotoar, menatap angkot hijau itu sampai hilang di tikungan, ditelan oleh keramaian kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Tawa Sarah masih terdengar di telinganya.

Tapi saat ia melangkah pulang, kamera itu terasa berbeda di tangannya. Lebih berat.