Ruang baca

2 / 4

Bab 1: Harapan di Tengah Sampah

5.374 kata

Bagian 1: Kapal Pecah

Minggu, 12 Juni 2005, 16:08 WIB

Kamar kos Ayu Pratiwi di Cisitu Lama yang berantakan. Dinding kremnya penuh bekas selotip dan lubang paku payung, sisa-sisa poster yang sudah lama dicopot. Di sudut, tabung-tabung gambar menumpuk. Meja belajarnya penuh serpihan penghapus, botol tinta cina yang hampir kosong, dan kertas-kertas sketsa yang diremas. Salah satunya, gambar komposisi kursi dan botol untuk tugas Ilustrasi Dasar, dicoret spidol merah. Komentar singkat dari dosennya: "Kurang 'rasa'. Terlalu teknis."

Komentar itu ditulis tiga hari lalu, tapi masih menghantam seperti tamparan. 'Rasa'. Bagaimana caranya memberi 'rasa' pada gambar botol? Dia sendiri merasa kosong.

Ayu melirik tumpukan kuitansi di mejanya. Kuitansi dari toko alat tulis. Kertas Canson, dua belas ribu selembar. Tinta Rotring, empat puluh lima ribu. Pensil arang, delapan puluh ribu. Totalnya sudah ratusan ribu, menggerogoti uang bulanan yang harusnya buat makan dan ongkos. Setiap goresan yang gagal, setiap kertas yang dibuang, adalah uang yang terbakar. Tekanan itu membuat tangannya kaku. Terlalu sopan, terlalu takut salah. Hasilnya: gambar-gambar yang teknisnya sempurna, tapi mati.

Ia mengingat percakapan teleponnya dengan Bapak dua minggu lalu. Sambungan interlokal ke Semarang selalu menyisakan jeda setengah detik, seolah kata-kata harus menempuh jarak ratusan kilometer untuk sampai. Suara Pak Hadi di seberang terdengar lelah, logat Jawanya yang kental bercampur dengan desah napas setelah seharian bekerja di kantor arsiteknya. "Nduk," katanya, panggilan sayangnya yang khas, "Bapak tahu kuliah seni itu mahal. Apalagi kamu jauh di Bandung. Tapi Bapak percaya sama pilihanmu. Cuma... hati-hati sama uangnya, ya. Ibu juga lagi ngirit buat biaya Bima masuk SMA."

Rasa bersalah itu masih mengganjal. Ayu tahu betul kondisi keuangan keluarganya. Ayahnya seorang arsitek di firma kecil, ibunya guru seni di SMP negeri. Penghasilan mereka cukup untuk hidup layak, tapi tidak sepenuhnya cukup untuk membiayai berbagai tugas kuliah Desain Komunikasi Visual yang mahal.

Bahkan di FSRD ITB (footnote: Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung)*, tempat yang seharusnya menjadi surga bagi jiwa kreatif, ia adalah orang asing. Teman-teman seangkatannya sudah menemukan jalur mereka masing-masing. Masing-masing punya 'suara' artistik yang jelas. Ayu? Ia masih mencari di mana letak suaranya. Mungkin karena ia tahu setiap kesalahan punya harga yang literal.

Ia meraih ponsel Nokia 3310-nya. Tidak ada pesan baru. Ia membuka daftar kontak, menekan nama "Sarah", lalu ragu-ragu. Sarah ada di jurusan Kriya Tekstil, dunianya berbeda. Dunianya penuh warna, benang, dan kain. Dunianya lebih hidup, lebih spontan. Sarah bisa menghabiskan seharian di Pasar Baru, pulang dengan tangan penuh inspirasi dan mata berbinar. "Yu, lo harus lihat batik ini! Motifnya kayak peta kehidupan gitu!" katanya suatu hari, tawanya renyah dan sedikit melengking.

Mengeluh padanya hanya akan membebani. Sarah punya masalahnya sendiri, tugas yang menumpuk, dosen yang perfeksionis, dan tekanan dari orang tua yang ragu tentang masa depan jurusan yang ia pilih. Ayu meletakkan kembali ponselnya. Masalah ini miliknya sendiri.

Dari jendela kamarnya, tumpukan sampah di ujung gang menggunung. Bau busuk sudah menjadi bagian dari rutinitas Bandung. Koran kemarin memberitakan bahwa walikota berjanji akan mengatasi krisis sampah dalam dua minggu. Janji yang sama sudah diucapkan tiga kali dalam sebulan terakhir.

Tapi anehnya, justru di tengah kekacauan inilah Ayu menemukan sesuatu. Kemarin, saat berjalan ke kampus, ia melihat seorang nenek penjual gorengan duduk di antara tumpukan sampah, wajahnya tenang. Ayu menatap nenek itu lebih lama. Tangannya mencari pensil di tas, lalu berhenti.

Pikiran itu melintas. Tapi ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Tidak bisa meraih kertas dan pensil. Kebuntuan itu menempel di kulitnya, lengket.

Ia butuh mandi.

Kamar mandi di dalam kamarnya, salah satu keuntungan kos yang lebih mahal ini, kecil dan pengap, lampu neonnya berkedip-kedip. Di bawah semprotan air yang lemah, ia mencoba membilas kebuntuannya, berharap kejernihan bisa datang bersama busa sabun Lifebuoy. Tapi cermin kecil di atas wastafel hanya memantulkan bayangan dirinya yang buram.

Tidak ada kejelasan di sana. Hanya ada dirinya yang sama, hanya lebih basah. Ia butuh keluar.

Setelah berganti kaos dan celana jeans yang sudah ia pakai tiga hari berturut-turut, ia mengunci pintu kamar dan berjalan menyusuri lorong kos. Suara televisi dari kamar sebelah terdengar samar. Sinetron sore yang dramanya selalu berlebihan. Ia turun tangga kayu yang berderit, melewati ruang tamu kos yang pengap dengan sofa bekas berwarna cokelat tua, lalu keluar ke jalan.

Udara sore Bandung menyambutnya dengan aroma yang sudah familiar: campuran knalpot angkot, gorengan dari warung pinggir jalan, dan bau sampah yang mengendap. Ia berjalan pelan menyusuri Cisitu Lama, melewati deretan warung yang mulai menyalakan lampu. Penjual bakso gerobak sudah mulai membunyikan kentungannya. Suara itu bercampur dengan azan Maghrib dari masjid kecil di ujung gang.

Warnet "Cyber Net" terletak di ujung jalan, di lantai dua sebuah ruko yang cat temboknya sudah mengelupas. Papan namanya berkedip-kedip dengan lampu neon biru yang sebagian sudah mati, sehingga tulisannya jadi "Cy_er N_t". Ia naik tangga sempit yang gelap, mengikuti suara deru kipas komputer dan aroma rokok yang semakin pekat.

Deru kipas casing komputer bergema di seluruh warnet. Belasan unit PC berdebu mendengung tanpa henti, suaranya bercampur dengan kepulan asap Gudang Garam dari bilik sebelah. Di layar monitor cembung di hadapannya, Billing Explorer (footnote: Perangkat lunak (software) yang sangat umum digunakan di warnet-warnet Indonesia pada era 2000-an untuk menghitung dan menampilkan waktu serta biaya pemakaian internet.)* di pojok kanan berdetak tanpa ampun, mengubah menit jadi rupiah. Tiga ribu lima ratus per jam. Harga yang harus ia bayar untuk kabur dari kamarnya.

Seharusnya ia mencari referensi di internet, mencari inspirasi dari karya para maestro. Tapi jemarinya berat. Ia membuka Kaskus. Forum itu adalah candu, labirin eskapisme dengan antarmuka biru-putih yang khas. Matanya menelusuri sub-forum Fotografi. Ia membujuk diri: riset.

Ia mengklik sebuah utas: [SHARE] Hasil Jepretan Kamera Analog Murah Meriah (Kamera di Bawah 200rb!).

Laman itu memuat dengan lambat, gambar-gambar muncul baris demi baris. Fotonya kasar, berbintik, dan warnanya sedikit pudar. Tapi justru di sanalah letak kekuatannya. Foto-foto itu ditampilkan dalam format aneh yang langsung memikat Ayu: dua gambar vertikal berdampingan dalam satu cetakan. Diptik.

Ada foto kucing hitam yang sedang melompat di atap seng, di sebelahnya ada foto bayangannya yang memanjang di dinding. Ada foto seorang gadis tertawa lepas, di sebelahnya ada foto tangannya yang blur, seolah sedang menggapai sesuatu. Setiap pasang foto adalah narasi mini. Pertanyaan dan jawaban.

"Olympus Pen EE, gan," jawaban si OP muncul beberapa post kemudian. "Kamera half-frame jadul. Satu rol isi 36 bisa jadi 72 jepretan! Irit buat kantong mahasiswa, hehe. Estetikanya juga dapet banget, kerasa jujur gitu. Kadang malah nangkep hal-hal yang nggak kita sadari lagi motret."

Seseorang di bawahnya menimpali, "Nyari di mana, gan, yang beginian? Udah langka."

OP membalas lagi: "Coba hunting di pasar loak kota masing-masing. Kalo di Bandung, surga-nya ya di Cikapundung lantai atas. Suka ada harta karun di sana kalo lagi hoki."

Nangkep hal-hal yang nggak kita sadari. Cikapundung. Tujuh puluh dua jepretan.

Kata-kata itu menyentak Ayu. Selama ini, dengan kamera SLR pinjaman yang berat dan mahal filmnya, setiap klik rana adalah komitmen besar. Tekanan itu melumpuhkannya. Tapi 72? Itu ruang untuk gagal. Untuk menangkap apa saja tanpa menghitung. Tiba-tiba, ia bisa membayangkan proyeknya. "Diptik Kehidupan Sehari-hari". Menemukan cerita dalam dua bingkai.

Ia ingin kamera itu. Sesederhana itu. Cara baru untuk menangkap 'rasa' yang selama ini tidak ia temukan di kertas gambar.

Bagian 2: Keputusan di Cikapundung

Saat Ayu akhirnya melangkah keluar dari warnet satu jam kemudian, perbedaan suhu dan bau langsung menghantamnya. Tumpukan sampah di depan rumah makan Padang. Kini, matanya melihat dengan cara yang berbeda. Ia membingkai pemandangan itu dalam kepalanya, format diptik Olympus Pen. Bingkai kiri: detail kusut plastik kresek Indomie yang berkilau basah. Bingkai kanan: wajah lelah si uni pemilik warung yang sedang mengipas lalat. Kamera itu perlu.

Cikapundung, pikirnya, mengingat kembali utas Kaskus tadi. Lantai atas.

Senin keesokan harinya, ia membolos kelas Tipografi. Keputusan nekat, tapi kebuntuan di dalam kepalanya lebih menakutkan daripada satu cap absen di kartu kuliahnya. Dengan sisa uang di dompet, seratus lima puluh ribu rupiah yang seharusnya untuk makan seminggu ke depan, misinya hanya satu: Pasar Antik Cikapundung.

Ia mencegat angkot berwarna hijau jurusan Dago–St. Hall di depan kampusnya. Di dalam, ia duduk di kursi plastik yang permukaannya sudah licin karena ribuan penumpang, menatap keluar jendela. Sopir angkot memutar kaset Peterpan dari tape deck yang suaranya pecah dan serak. Vokal Ariel terdengar parau, menyanyikan lagu yang menghantui seisi kota tahun itu. "Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi… Satu pintaku jangan, kau coba tanyakan kembali…" Ayu menatap keluar jendela dan mendadak kesal pada lagu itu.

Angkot bergoyang melewati Jalan Dago yang padat merayap. Di kiri-kanan jalan, baliho-baliho raksasa dan poster film yang ditempel serampangan mulai melapuk. Wajah Nicholas Saputra di poster Janji Joni yang ikonik itu sudah sobek di bagian mata. Iklan rokok A Mild dengan tagline "Bukan Basa-Basi" menempel di dinding sebuah distro yang musiknya berdentum-dentum hingga ke jalan. Pemandangan yang ia lihat setiap hari, tapi hari ini berbeda. Matanya mulai membagi jalanan ke dalam kotak-kotak kecil.

Perjalanan ke pusat kota adalah ritual. Ia turun di perempatan dekat Alun-Alun, di seberang Palaguna, lalu berjalan kaki. Aroma khas pusat kota langsung menyergapnya: parfum dari pintu masuk Matahari Department Store bercampur bau manis arumanis. Aroma got di bawahnya, tak pernah benar-benar hilang.

Ia berjalan menyusuri pinggiran Jalan ABC yang riuh, lorong sempit manusia dan barang dagangan. Pedagang kaki lima berjejer di trotoar, menjual VCD bajakan yang sampulnya dicetak miring, aksesoris ponsel, dan tali pinggang kulit. Dari sinilah ia berbelok, masuk ke gedung yang fasadnya bertuliskan "Pusat Elektronik Cikapundung."

Nama itu ironis. Lantai dasarnya jauh dari pusat elektronik gemerlap ala mal, lebih mirip perut mesin kota yang dibongkar. Etalase-etalase kecil yang penuh sesak dengan komponen renik: kapasitor, IC, dioda. Konter servis HP yang remang-remang, teknisi dengan kaca pembesar di dahinya menyolder papan sirkuit yang hangus. Bau timah panas dan plastik terbakar.

Tangga menuju lantai atas sempit dan agak gelap. Semakin ia naik, semakin berkurang suaranya. Di sinilah letak Pasar Barang Lawas dan Antik Cikapundung. Di lantai teratas gedung itu, kios-kios kecil berdesakan dengan barang-barang lama. Bau kapur barus dan kertas tua yang lembap menyambutnya. Lorong-lorongnya diisi kios-kios yang meluap dengan piringan hitam, mesin tik tua, koin-koin kuno, dan ribuan benda lain yang telah kehilangan pemiliknya.

Setiap kios adalah museum pribadi. Ada yang menjual piringan hitam dengan sampul bergambar penyanyi berambut gombrong. Koes Plus, Panbers, Bimbo. Ada yang khusus menjual jam tangan antik yang sudah tidak berdetak. Ada juga yang menjual kamera-kamera tua dengan lensa yang berembun.

Seorang bapak penjual kacamata antik menawarkan dagangannya dengan antusias. "Kacamata John Lennon, Neng! Asli vintage!" Ayu hanya tersenyum dan menggeleng. Ia punya misi yang lebih spesifik.

Di sebuah kios yang sesak, di antara tumpukan arloji mati dan porselen retak, ia menemukannya. Tergeletak di atas selembar beludru merah dekil. Bau logam yang baru saja dialiri listrik, bercampur aroma pahit bahan kimia yang sudah lama mengering.

Olympus Pen EE. Persis yang ia lihat di Kaskus. Bodi perak yang sedikit lecet, tapi lensanya masih jernih. Ia mengangkatnya. Bobotnya pas di tangan.

Ada sensasi aneh saat ia menyentuhnya. Getaran halus, nyaris tidak ada. Kamera itu... hidup? Ia menggeleng.

"Bagus ya, Neng?" Pemilik kios, seorang bapak berumur lima puluhan dengan kumis tipis, tersenyum ramah. "Kamera Jepang asli. Masih jalan kok. Cuma perlu film aja."

Ayu mengangguk, masih terpesona. Ia mengintip melalui jendela bidik. Dunia berubah dari sana. Lebih terfokus. Ada filter tak terlihat yang membuat segalanya lebih hidup.

"Berapa, Pak?"

"Dua ratus lima puluh ribu. Tapi buat mahasiswa, dua ratus deh."

Ayu menghitung uang di kepalanya. Masih kurang lima puluh ribu. Kekecewaannya pasti terbaca di wajah, karena si bapak langsung melanjutkan.

"Atau... seratus lima puluh ribu cash. Gimana?"

Tepat sesuai dengan uang yang ia punya. Ia hampir tertawa, entah karena lega atau frustrasi. Ayu menatap angka itu lebih lama dari yang perlu.

Saat ia baru saja akan menyentuh uang di dompetnya, sebuah suara rendah dan familier terdengar dari belakangnya.

"Nyari kamera half-frame juga ternyata."

Ayu berbalik dan jantungnya sedikit mencelos. Jaka. Mahasiswa Seni Murni tingkat akhir. Ia ingat betul wajah itu dari kelas Gambar Bentuk tahun pertama. Jaka yang pendiam, yang komentarnya selalu menohok tapi selalu tepat sasaran. "Komposisimu terlalu sopan," katanya waktu itu saat menjadi asisten dosen. "Seni itu bukan soal jadi anak baik."

Jaka lebih kurus dari terakhir kali Ayu melihatnya. Mata cekung, kulit sedikit pucat. Tas kanvas di bahunya berat, mungkin penuh dengan buku atau peralatan foto. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Eh, Kang Jaka," sapa Ayu, berusaha terdengar santai. "Iya, nih. Lagi keracunan Kaskus."

Jaka tidak tersenyum. Matanya tidak melihat Ayu. Tatapannya terkunci pada kamera di atas meja beludru itu, dan ekspresinya berubah. Sesuatu di wajahnya berubah. Matanya terkunci pada kamera itu, lalu ia mundur setengah langkah. Ia mundur selangkah.

"Hati-hati," kata Jaka, suaranya pelan, ditujukan lebih pada kamera itu daripada pada Ayu. "Dengan yang seperti itu. Frame keduanya... suka aneh."

Ayu mengerjap. "Maksudnya gimana, Kak?"

Jaka cuma geleng pelan, matanya menyiratkan kelelahan yang dalam. Ada sesuatu yang nggak ia katakan. Beban yang berat. "Ah, nggak apa-apa. Cuma... hati-hati aja, ya." Ia menatap Ayu sejenak, tatapannya datar tapi peduli. "Selamat hunting."

Lalu ia berbalik dan menghilang ke dalam keramaian pasar. Ayu menatap kamera itu lagi. Bodi peraknya berkilat di bawah lampu neon kios.

Pemilik kios tidak mendengar percakapan mereka. Ia masih tersenyum ramah, menunggu keputusan Ayu.

"Gimana, Neng? Jadi ambil?"

Ayu membuka dompetnya. Di dalamnya ada tiga lembar lima puluh ribuan. Uang sakunya sendiri hanya beberapa lembar seribuan yang lecek, cukup untuk ongkos dan makan siang hari ini.

Ia sodorkan ke si bapak, tangan sedikit gemetar. Saat si bapak sedang menulis nota pembelian, mata Ayu menangkap kotak plastik buram di etalase. Rol-rol film. Ia tidak bisa membawa pulang kamera kosong.

"Sekalian filmnya, Pak. Yang hitam-putih." Si bapak mengangguk, mengambil satu rol Ilford HP5 Plus 400 dari kotak plastik buram. "Ini, Neng. Tiga puluh enam jepretan. Lima belas ribu."

Lima belas ribu. Ayu menatap uang seribuan di dompetnya. Hanya cukup untuk sekali naik angkot. Makan malam bagaimana?

Ia ragu sejenak. Lalu ia teringat sesuatu. Di saku kecil tersembunyi di dalam dompetnya, ada sebuah kartu. Hadiah ulang tahun dari Sarah bulan lalu yang belum sempat ia pakai. Voucher isi ulang pulsa Simpati senilai dua puluh ribu rupiah. (footnote: Pada era 2000-an, metode utama pengisian pulsa ponsel adalah melalui voucher fisik. Kartu ini memiliki kode unik yang tersembunyi di bawah lapisan pelindung yang harus digosok, membuatnya berharga seperti uang tunai bagi pengguna ponsel saat itu.)*

"Pak," kata Ayu, suaranya sedikit ragu. "Kalau saya bayar filmnya pakai ini, bisa? Voucher pulsa. Masih baru, belum digosok."

Si bapak menatap kartu itu, lalu menatap Ayu. Ia terkekeh pelan. "Bisa aja si Eneng. Yowes, teu nanaon. Abdi ge peryogi pulsa." (Bisa saja si Eneng. Ya sudah, tidak apa-apa. Saya juga perlu pulsa.)

"Bener film hitam-putih neng?" tanya si bapak.

"Iya, Pak," jawab Ayu. "Rasanya... lebih jujur."

Dengan kamera di tangannya, Ayu bergegas keluar dari pasar. Jepretan pertama ia arahkan ke langit sore yang berwarna jingga di atas siluet Gedung Merdeka. Klik. Suara rana yang renyah dan memuaskan. Tapi saat ia hendak memutar tuas film, mekanismenya macet. Ia menekannya, tetapi tuas itu tidak bergerak. Jantungnya mencelos. Apa ia baru saja membeli barang rusak? Dengan sedikit frustrasi, ia mencoba lagi, kali ini dengan paksaan. Terdengar bunyi krek kecil yang tidak wajar dari dalam, dan tuas itu akhirnya berputar. Kamera tua memang begini, batinnya, mencoba menenangkan diri.

Saat Ayu menurunkan kamera itu, langit sedikit lebih kelabu. Matanya lelah. Badan kamera itu hangat di tangannya.

Bagian 3: Jepretan Pertama

Senin, 13 Juni 2005 — 22:00 WIB

Malam itu, Ayu tidak bisa tidur. Kamera itu tergeletak di meja belajarnya, memantulkan cahaya remang dari lampu jalan. Ia mengambilnya. Beratnya pas di tangan. Ia mengarahkan jendela bidik ke sekeliling kamarnya. Tumpukan buku, poster yang miring, gitar yang bersandar di dinding. Melalui lensa kecil itu, kekacauan kamarnya berubah. Lebih teratur.

Ia menekan tombol rana. Klik. Lalu, tanpa sadar, ia memutar tuas pemutar film. Zrr-t. Menekan rana lagi. Klik. Dorongan aneh untuk mengambil dua gambar, seolah untuk memastikan momen itu benar-benar terekam. Kamera itu tidak memiliki flash, jadi ia tahu foto itu akan gelap total. Tapi ia tidak peduli. Perlu. Ritual yang harus diselesaikan.

Tiga hari berlalu. Kamera itu tidak pernah lepas dari lehernya. Setiap hari ia membawanya ke kampus, dan jepretan ganda menjadi ritme baru yang tubuhnya pelajari tanpa perlu diperintah. Klik. Zrr-t. Klik. Pohon kering di taman belakang. Bayangan gedung di atas rumput. Tumpukan sampah di sudut yang berkilau basah terkena embun pagi.

Di koridor studio DKV, ia lewat papan pengumuman. Fotokopi halaman majalah Concept ditempel di sana, karya Indra: konsep iklan rokok lengkap — layout, copywriting, visual — bersih, cerdas, dan siap jual. Indra sudah bicara bahasa creative agency sementara Ayu masih bicara bahasa kertas Canson. Di sebelahnya, poster hasil tugas Ilustrasi Dasar — tugas yang sama yang Pak Hendra komentari "kurang rasa" pada karya Ayu. Di sini terpajang milik Amel: wajah manusia dibelah tiga bagian, warna bertabrakan, judul "Fragmentasi Identitas Urban". Mereka berdua sudah punya suara. Kamera Ayu menggantung di lehernya, dan anehnya, beratnya justru lebih ringan daripada beban melihat poster-poster itu. Di sana, di dalam kotak kecil jendela bidiknya, ia tidak perlu bersaing. Ia hanya perlu melihat.

"Kamu terlalu aman, Ayu." Kata-kata Pak Hendra dari kelas minggu lalu menggema di kepalanya saat ia berjalan menjauh. "Seni itu bukan tentang tidak membuat kesalahan. Seni itu tentang membuat kesalahan yang menarik." Mungkin, pikirnya sambil menyentuh bodi kamera yang hangat, kesalahan yang menarik itu bukan di atas kertas.

Ia melihat Sarah dari kejauhan, sedang tertawa bersama teman-teman Kriya Tekstil-nya. Sarah, dengan rambutnya yang diikat tinggi dan jaket denim belelnya, adalah percikan warna di tengah kerumunan mahasiswa berbaju hitam. Sarah menangkap pandangan Ayu dan melambai, senyumnya lebar dan tulus. Ayu hanya tersenyum canggung dan mengangkat kameranya sedikit, sebuah isyarat. Sarah membentuk tangannya menjadi telepon dan menempelkannya di telinga, "Telepon gue!" teriaknya tanpa suara dari kejauhan. Ayu mengangguk.

Tapi ia tidak memotret Sarah. Momen itu terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada rol film pertamanya.

Di kelas Fotografi, Pak Reza membahas format visual. "Half-frame itu unik," katanya sambil menunjuk slide proyektor. "Dua gambar jadi satu cerita."

Ayu menatap kameranya yang tergeletak di meja.

"Fotografer suka format ini karena ekonomis," lanjut Pak Reza. "Di half-frame, satu gambar jarang berdiri sendirian. Frame di sebelahnya bisa ngubah cara kita melihat semuanya."

Sesuatu menusuk di dadanya.

Setelah kelas, ia pergi ke perpustakaan. Di antara deretan buku tebal tentang sejarah seni, ia menemukan sebuah buku tipis berjudul "The Magic of Half-Frame Photography". Ia membaca dengan lahap, mempelajari teknik-teknik komposisi untuk format diptik.

"Format half-frame memungkinkan fotografer untuk menceritakan kisah yang lebih kompleks," tulis pengarangnya. "Setiap pasang foto adalah dialog. Pertanyaan dan jawaban. Sebab dan akibat."

Sebab dan akibat. Kata-kata itu bergema di kepalanya.

Saat ia duduk sendirian di warung kopi dekat kampus, menghitung sisa uang koinnya untuk segelas es teh, ia menatap kameranya. Ia sudah mengambil 18 frame. Masih ada banyak yang tersisa. Ia mengeluarkan rol film Ilford baru dari tasnya, yang kedua, yang ia beli dengan uang makan siang, dan menimangnya.

Warung kopi itu sederhana. Meja plastik, kursi plastik, asbak penuh puntung rokok. Tapi melalui jendela bidik kameranya, tempat itu puitis. Cahaya sore yang menyaring melalui jendela kaca buram. Asap rokok yang mengepul membentuk spiral. Wajah-wajah lelah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas.

Ia mengangkat kameranya, mengarahkan ke seorang mahasiswa yang sedang tertidur di meja sebelah. Jarinya hampir menekan rana, tapi ia urungkan. Ada rasa ganjil yang membuatnya tidak enak. Menginvasi privasi seseorang, meski orang itu sedang di tempat umum.

Belum sempat ia menyesap es tehnya, Nokia 3310-nya bergetar di meja plastik yang lengket. Layar hijau pucat berkedip: `1 Pesan Masuk`.

> Sarah: "Yu, kelas lo dah beres kan? Laper. Kantin Bengkok, skrg? Gue traktir colenak :P"

Ayu nyengir kecil. Waktu makan siang asalnya ia akan lewati sebelum rencananya untuk sesi street photography di Braga. Tapi perutnya sama keroncongnya dengan dompetnya. Colenak gratis terdengar seperti berkah.

Ia membalas cepat: "OK. Ketemu di bangku kayu deket warung teh tarik. 10 menit." Ia menyelipkan ponsel ke saku dan mengambil kamera dari meja. Tapi saat ia menyentuh dan mencoba memutar lensa, ada yang terasa tak beres. Udara di sekitar lensa hampa, menyedot kehangatan dari jemarinya. Untuk sesaat, lubang kecil yang gelap. Ia mengerjap, dan sensasi itu hilang. Ia beranjak, mencoba mengabaikan rasa dingin yang kini tertinggal di ujung jarinya.

Bagian 4: Sore di Kantin Bengkok

Jumat, 17 Juni 2005 - 15:45 WIB

Langit kampus memutih, sinar siang memantul di paving basah bekas hujan rintik. Ayu bergegas melewati deretan studio lukis FSRD, bau cat minyak dan cat akrilik masih menempel di hidungnya. Di kejauhan, speaker kantin memutar "Ada Apa Denganmu" versi radio edit, sedikit pecah, tapi semua orang tetap ikut bersenandung setengah hati.

Kantin Bengkok, julukannya lebih tenar daripada nama resminya: Pujasera Timur. Deretan lapak membentuk huruf L menghadap halaman rumput gersang. Asap bakaran ayam, wangi mie instan rebus, dan suara sendok menubruk piring aluminium berpadu jadi orkes makan siang mahasiswa ITB 2005.

Sarah sudah duduk di bangku kayu paling ujung, kaki diselonjorkan, jaket denim masih lembab di bahu. Rambutnya diikat asal, membuat poni tipisnya menempel di kening. Di depannya dua piring colenak sudah menunggu, uap gula merah naik pelan.

"Dari kemarin gue liat, kamera barunya dibawa terus ya?" cibir Sarah begitu Ayu datang. "Mirip bapak-bapak kolektor banget, Yu. Keliatan jadul banget tuh kameranya?"

Ayu menaruh tas, duduk, terus menaruh Pen EE di atas meja seperti trofi. "Justru itu yang bikin berasa. Kayak denger musik dari kaset, bukan mp3 bajakan. Lebih jujur."

Sarah mengejek sambil menusuk tape bakar pake garpu plastik. "Jujur atau mau keliatan gaul ala vintage Yu?" Mulutnya belepotan kelapa parut, tapi dia lanjut, "Eh, ngomong-ngomong, Indra anak DKV udah tau belum karyanya masuk majalah Concept?"

Ayu menyendok saus gula, mencoba menahan iri yang refleks muncul. "Tau lah. Dia tuh bangga banget ngumumin di studio tadi pagi, sukses bikin yang lain iri."

"Sombong banget yah? Tapi..." Sarah mencondongkan badan, suara dipelankan, "Jomblo nggak dia?"

Ayu nyekikik, hampir keselep tape. "Ya ampun, Sar. Langsung gitu. Kayanya sih single. Tapi dia picky. Naksir cewek yang 'punya konsep hidup', katanya." Ayu bikin tanda kutip pake jari.

"Konsep hidup?" Sarah ketawa. "Gue punya kok. Lulus cepet, kerja, beli mesin jahit industrial. Bikin butik sendiri. Simpel." Dia minum es jeruk, es batunya beradu nyaring. "Nanti kenalin ya. Biar gue ajarin dia bedain katun sama satin."

Obrolan bergeser ke tugas, dosen killer, sampai rencana akhir pekan. Percikan tawa mereka tertelan hiruk-pikuk kantin: panggilan order bakso, denting gelas, dan teriakan abang es doger.

Saat jeda percakapan mereda, Ayu mengetuk-ngetuk bodi kamera. Matanya berbinar. "Sar, gue pengen hunting ke Braga sore ini. Golden hour jam lima kurang. Mau ikut?"

Sarah memutar garpu di saus gula. "Braga? Hmm." Ia tampak berpikir. "Gue sekalian cari majalah bekas di daerah Cikapundung. Butuh referensi fashion buat tugas minggu depan. Vogue atau Harper's Bazaar lama, yang ada fashion spread-nya."

"Wah, asik dong. Bareng-bareng." Ayu mulai menjelaskan dengan antusias, tangannya bergerak-gerak menggambarkan komposisi di udara. "Gue baca di Kaskus, ada yang bilang cahaya sore di Braga itu perfect buat street photography. Bayangan gedung kolonial, pantulan di jendela toko, orang-orang yang lagi santai..." Suaranya naik sedikit, mata berbinar.

Sarah mengangguk-angguk, meski lebih fokus pada colenak-nya. "Iya, iya. Bagus tuh." Responnya sopan tapi tidak se-antusias Ayu. Baginya, ini cuma urusan praktis: cari majalah, selesaikan tugas, pulang. Tapi melihat semangat Ayu yang begitu murni membuatnya sedikit iri sekaligus tersentuh.

Mereka menghabiskan colenak dalam diam nyaman, diam yang lahir dari pertemanan lama. Sesekali Sarah meniru gaya pewawancara infotainment, pura-pura menyodorkan sendok sebagai mikrofon. Ayu membalas dengan memotret pura-pura menggunakan tangannya sebagai kamera. Candaan receh, tapi cukup membuat mereka tertawa sampai penjaga lapak menggeleng geli.

"Eh, Yu," Sarah mendadak serius, mengetukkan garpu ke meja. "Lo baik-baik aja kan? Beberapa hari ini muka lo... kayak kurang tidur."

Ayu tertegun. Kipas tua di langit-langit berdetak lambat. "Ya... tugas numpuk. Biasa."

Sarah meneliti mata sahabatnya, seolah mencari retak halus. "Kalau ada apa-apa, cerita, ya. Jangan dipendem kayak kertas tugas yang lo lipat-lipat itu. Kertas mahal boleh dihemat, tapi curhat jangan."

Ayu tertawa kecil, tapi hangat. "Siap, Bu Psikolog."

Sarah melirik jam tangan digitalnya yang berkedip 15:47. "Eh, udah hampir jam empat. Yuk, sekalian kita berangkat bareng sekarang. Biar nggak buru-buru."

"Oke." Ayu mengangkat dua piring kotor, minyak kelapa menempel di jari. "Gue buang piring dulu."

Ia berjalan ke tempat piring kotor di ujung kantin, menumpuk piring bekas mereka di atas tumpukan yang sudah menggunung. Sarah menunggu sambil merapikan tas kain tenunnya.

"Udah?" Sarah bangkit, menepuk celana jeans. "Kita ke gerbang depan aja, naik angkot dari depan Borromeus."

Mereka berjalan bersama keluar kantin. Ayu menyentuh kamera di tasnya. Logamnya lebih dingin dari biasanya. Ia mengusap tas, membatin mungkin cuma AC kantin.

Perjalanan ke gerbang kampus ringan. Sarah bercerita tentang tugas fashion design yang menuntut referensi visual dari majalah luar negeri. Ayu mendengarkan sambil sesekali mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang ke komposisi cahaya sore yang akan ia tangkap.

Di depan Rumah Sakit Borromeus, mereka menunggu angkot Dago-St. Hall. Jalanan ramai seperti biasa: motor berseliweran, pedagang asongan, suara klakson yang tak henti. Tapi saat angkot hijau dengan garis oranye berhenti di depan mereka, Ayu tahu ada yang aneh.

Angkot itu kosong. Benar-benar kosong, kecuali sopirnya yang berkumis tipis dan memakai kaos oblong putih. Padahal ini jam sibuk, seharusnya penuh sesak.

"Wah, rejeki," kata Sarah sambil naik. "Nggak perlu berdesak-desakan."

Ayu mengikuti, tapi ada rasa ganjil. Ia duduk di sebelah Sarah, merasakan getaran mesin angkot yang halus, terlalu halus untuk kendaraan tua. Radio sopir memutar "Ada Apa Denganmu" versi kaset yang agak melengking, tapi suaranya teredam.

"Enak ya, bisa duduk santai," Sarah bersandar di bahu Ayu. Kehangatan tubuh sahabatnya nyata dan menenangkan.

Ayu mengangguk, tapi matanya terus memperhatikan jalanan di luar. Jalan Dago yang biasanya macet kini mengalir terlalu lancar. Angkot bergerak tanpa tersendat.

"Yu," Sarah berbisik, suaranya agak ragu. "Kok rasanya... sepi banget ya?"

Ayu melirik ke belakang. Masih kosong. Tidak ada penumpang lain yang naik di pemberhentian manapun. Bahkan di perempatan yang biasanya ramai, tidak ada orang yang menunggu angkot.

"Mungkin lagi beruntung," jawab Ayu, tapi suaranya tidak yakin.

Radio terus memutar lagu yang sama, berulang-ulang. Ariel menyanyi dengan suara yang semakin terdistorsi: "Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi..."

Sarah semakin erat bersandar di bahunya. Bau parfum murah dan keringat. Familiar. Tapi bulu kuduk Ayu berdiri tanpa alasan yang jelas.

Jalanan mulai asing. Gedung-gedung di kiri-kanan bergeser posisi, meski ia yakin rute ini sudah ia hafal.

"Braga," gumam sopir tiba-tiba, suaranya serak.

Ayu tersentak. Mereka sudah sampai? Tapi rasanya baru beberapa menit. Ia melihat keluar. Ya, itu Braga. Gedung-gedung kolonial yang familiar, trotoar yang lebar, lampu jalan yang antik.

Sarah bangkit, mengeluarkan uang receh. "Pak..."

"Kiri," kata Ayu tiba-tiba, suaranya keluar tanpa ia sadari.

Bagian 5: Momen Emas di Braga

Jumat, 17 Juni 2005 — 16:48 WIB

Angkot berhenti dengan bunyi desahan rem yang agak keras. Pintu geser terbuka, suara logam bergesekan dengan rel yang sudah aus. Sarah turun duluan, melempar uang receh ke tangan sopir yang berkumis tipis. "Makasih, Pak."

Ayu mengikuti, kakinya agak gemetar saat menyentuh aspal. Udara sore Braga menyambutnya: campuran knalpot, kopi dari warung pinggir jalan, dan debu tua dari gedung-gedung kolonial.

"Gue ke jalan ke arah Cikapundung dulu ya," kata Sarah, menunjuk ke ujung jalan yang berlawanan. "Kalo udah dapet majalahnya, gue SMS lo. Ketemu di depan toko buku Djawa jam setengah enam?"

"Oke." Ayu mengangguk, masih sedikit pusing dari perjalanan angkot yang aneh tadi. "Hati-hati ya, Sar."

Sarah tersenyum, lalu berjalan menjauh dengan langkah ringan, tas tenunnya mengayun di bahu. Ayu menatapnya sampai siluet Sarah menghilang di tikungan, ditelan kerumunan pejalan kaki.

Sendirian.

Ayu berdiri sejenak di trotoar. Dan saat itulah ia melihatnya. Cahaya emas. Matahari sore yang mulai condong ke barat, sinarnya menyapu fasad gedung-gedung tua, memantul dari jendela-jendela kaca, menciptakan bayangan panjang di trotoar.

Ini dia. Golden hour yang sesungguhnya.

Ayu mengeluarkan kameranya dari tas. Bobotnya sudah familiar. Logam perak Olympus Pen EE itu hangat terkena sinar matahari. Ia mengalungkannya di leher, lalu mulai berjalan pelan menyusuri trotoar, matanya berburu komposisi.

Melalui jendela bidik, Braga berbeda. Garis-garis arsitektur kolonial membentuk leading lines yang mengarah ke titik hilang di ujung jalan. Kontras antara bayangan gelap dan highlight terang.

Ia memotret siluet seorang nenek penjual kacang rebus, bayangan tubuhnya memanjang di aspal. Klik. Lalu ia memutar tuas film. Zrr-t. Ia memotret pantulan cahaya di jendela sebuah toko antik. Klik. Setiap jepretan benar. Hidup.

Untuk pertama kalinya sejak lama, inilah 'rasa' yang dimaksud dosennya.

Ia terus berjalan, kameranya siap di tangan. Lalu, di sebuah bangku kayu tua di bawah pohon trembesi, ia melihatnya.

Seorang pria paruh baya duduk sendirian, bahunya sedikit membungkuk. Pakaiannya sederhana: kemeja putih yang sudah agak kusam, celana kain cokelat. Wajahnya tertunduk, satu tangan menutupi mata. Bahkan dari kejauhan, Ayu bisa melihat tubuhnya yang bergetar pelan.

Ia menangis.

Sesuatu menusuk di dadanya. Kesedihan pria itu menular, mengingatkannya pada ayahnya yang bekerja lembur di Semarang, rasa bersalah yang mengganjal setiap kali ia membeli kertas gambar mahal.

Ayu mengangkat kameranya. Gerakannya hati-hati. Saat jemarinya menyentuh badan logam, sengatan yang aneh menjalari lengannya. Bukan dingin biasa, seakan menyedot kehangatan dari ujung jarinya ditarik paksa masuk ke dalam benda itu.

Ia mencoba mengabaikannya, menempelkan jendela bidik ke matanya.

Seketika, dunia di luar bingkai itu lenyap. Menjadi kabur, tidak fokus, tidak penting. Hanya ada pria yang menangis itu, tajam dan jernih. Kerumunan, mobil, gedung, semuanya dihapus oleh optik yang aneh ini. Yang tersisa hanya dia. Hanya kesedihannya yang telanjang.

Napas Ayu tertahan. Waktu melambat. Di puncak gelombang empati yang meluap itu, saat ia merasakan kesedihan pria itu seolah menjadi miliknya, jarinya menekan tombol rana.

Klik.

Saat rana berbunyi, kehangatan di dadanya lenyap. Disentak keluar dari tubuhnya, mengalir deras melalui lengannya, dan menghilang ke dalam kamera. Ia tersentak, sedikit pusing. Dadanya hampa. Saat itulah dunia kembali bergerak normal. Kerumunan kembali terlihat, suara kembali terdengar, dan pria itu mengangkat kepalanya. Ia menatap sekilas ke arah Ayu dengan mata yang sembab, lalu bangkit dan berjalan menjauh.

Ayu menurunkan kameranya sedikit, bersiap memutar tuas film untuk jepretan berikutnya. Tapi sebelum ia sempat melakukannya, suara keras memecah sore.

BRRRRR—NGEEENG!

Sebuah truk sampah besar berwarna oranye muncul dari ujung jalan, mesinnya bergemuruh kasar, knalpotnya mengeluarkan asap hitam yang pekat. Suaranya memekakkan telinga, mengganggu kedamaian sore yang sempurna. Truk itu bergerak lambat, berhenti-berhenti di depan toko-toko untuk mengangkut karung-karung sampah.

Ayu meringis, kesal karena momennya terganggu. Tapi kemudian, sesuatu yang aneh terjadi lagi.

Sensasi ganjil itu kembali. Lebih kuat kali ini. Kamera di tangannya bergetar. Atau mungkin tangannya yang gemetar? Ia merasakan tarikan, dorongan yang bukan datang dari dirinya sendiri. Lengannya terangkat, lensa mengarah ke truk sampah yang berisik itu.

"Tidak," bisiknya, berusaha melawan. Tapi lengannya tidak menurut. Kamera terangkat dengan sendirinya, jendela bidik menangkap gambar truk oranye yang sedang berbelok di perempatan.

Jarinya menekan rana tanpa perintah dari otaknya.

Klik.

Jepretan kedua itu salah. Sangat salah. Gelombang mual naik dari perutnya, kepalanya berputar. Dingin dari kamera merambat ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggigil meski udara sore masih hangat.

Ia menurunkan kamera dengan tergesa, napasnya tersengal. Truk sampah itu sudah menjauh, tapi baunya masih tertinggal di udara. Bau diesel yang menyengat, bercampur dengan sampah busuk. Yang aneh, bau itu tidak hilang. Bahkan setelah truk itu lenyap di tikungan, aroma diesel itu masih menempel di hidungnya.

Ayu menggelengkan kepala, berusaha mengusir pusing yang mendera. Cuma kecapean, batinnya. Terlalu bersemangat motret. Konsentrasi berlebihan.

Ia memasukkan kamera kembali ke dalam tas, tangannya masih sedikit gemetar. Bekas logam kamera masih menempel di telapak tangannya. Tapi ia mengabaikannya. Ia punya misi. Cahaya emas tidak akan bertahan lama.

Dengan langkah yang sedikit goyah, ia melanjutkan perjalanannya menyusuri Braga. Di belakangnya, bangku kayu tempat pria itu tadi duduk kini kosong. Daun-daun trembesi bergoyang pelan tertiup angin sore.

Ia mencoba mengingat. Foto pertama ia ingat. Tapi foto kedua...

Kenapa aku motret truk sampah?

Pertanyaan itu tidak terjawab. Ia tidak ingat memutuskan untuk memotret truk itu. Tangannya bergerak sendiri, seolah ada yang memaksanya.

Aneh.

Tapi mungkin itu hanya refleks. Mungkin ia terlalu tenggelam dalam zona fotografer hingga memotret apa saja yang bergerak.

Ia terus berjalan. Sore itu masih indah. Cahayanya masih sempurna.