Ruang baca

1 / 4

Prolog: Asal-Usul Benda Terkutuk

1.402 kata

Bagian 1: Bau & Daging

TPA Leuwigajah. Senin, 21 Februari 2005, 04:30 WIB

Udara diam. Yang terdengar hanya napas Ujang sendiri, terlalu keras. Lalu baunya datang. Manis memuakkan dari buah busuk, asam dari plastik basah. Gas metana mengendap di udara, bau tak terlihat yang membuat perut mulas.

Ujang tahu kombinasi bau ini lebih baik dari bau tubuhnya sendiri. Lima tahun gunung ini memberinya makan. Tadi malam, longsoran itu menelan kampung di bawah.

Langit masih gelap, tapi ufuk timur mulai memancarkan cahaya kelabu pucat. Cahaya itu menampakkan luka raksasa di lereng yang Ujang hafal setiap jengkalnya. Longsoran itu telah menelan Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Gema ledakannya masih menggetarkan giginya. Ia seharusnya ada di sana, di bawah sana, bersama yang lain. Tapi batuk istrinya tak kunjung henti, dan ia terpaksa tidur di saung yang lebih tinggi.

Dengan karung goni kosong di pundaknya dan senter Eveready yang sinarnya kuning dan lemah, Ujang berjalan di tepi zona bencana. Udara subuh menggigit kulitnya. Ia tidak mencari mayat. Biarlah itu urusan tim SAR. Ia mencari logam. Botol. Apa saja. Ia tahu ini salah. Tapi perut Siti sudah dua hari kosong.

Sorot senternya menari-nari di atas lautan lumpur dan sampah basah. Kakinya tergelincir di atas selembar plastik tebal. Ia jatuh, tangannya terulur ke depan untuk menahan diri.

Tangannya mendarat di tubuh manusia.

Ujang menarik tangannya dengan cepat, napasnya tersengal. Ia menyorotkan senternya ke titik tempat tangannya mendarat. Hanya ada gundukan sampah biasa, tertutup sobekan terpal biru. Tapi sekarang, saat ia lebih dekat, ia menciumnya. Bau yang berbeda. Bau anyir yang manis dan tebal, yang membuat perutnya bergejolak.

Jantungnya berdebar kencang. Ia menyingkirkan terpal itu dengan ujung sepatunya. Di bawahnya, sebuah lengan mencuat. Pucat. Kaku. Lengan seorang pria, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung rapi.

Ujang mulai menggali dengan panik, lumpur masuk ke sela-sela kukunya. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Ia hanya harus melihat. Wajah itu muncul. Seorang pria paruh baya, bukan orang sini. Wajahnya bersih, terawat, meski kini matanya yang setengah terbuka menatap kosong dan mulutnya terisi lumpur hitam. Di pergelangan tangannya, sebuah jam tangan berwarna perak masih berdetak. Pakaiannya terlalu bagus untuk tempat ini. Orang kota. Tersesat di waktu dan tempat yang salah.

Rasa takut yang primal mencengkeram Ujang. Ia akan berbalik, lari, melupakan apa yang baru saja ia lihat. Tapi kemudian matanya menangkapnya. Terjepit di bawah lengan pria itu, terlindung dari lumpur terburuk — tas selempang. Kulit asli berwarna cokelat tua. Kondisinya nyaris sempurna.

Ujang membeku. Ketakutan berperang dengan kebutuhan. Tas itu. Di Cikapundung, harganya bisa untuk makan sebulan, bisa untuk obat istrinya. Ia sudah mengulurkan tangan sebelum sempat berpikir lagi.

Bagian 2: Jimat & Dosa

Napas Ujang pendek dan dangkal. Ia berjongkok di sana, matanya terpaku pada tas kulit itu. Obat buat Siti. Pikiran itu menembus kepanikannya. Beras untuk seminggu.

Dunia orang-orang berseragam dan para wartawan akan segera tiba. Mereka akan memasang garis kuning dan menyebut tempat ini TKP. Tas ini akan menjadi barang bukti. Kesempatan ini hanya ada sekarang.

Dengan gerakan yang berat dan salah, ia mengulurkan tangannya.

Mengambil tas itu adalah sebuah pekerjaan. Lengan pria itu kaku seperti besi, menolak melepaskan harta terakhirnya. Ujang harus menjejakkan satu kakinya di bahu mayat itu untuk mendapatkan daya ungkit. Saat ia menarik dengan seluruh kekuatannya, terdengar bunyi krak yang pelan dan basah dari sendi bahu yang kaku. Ujang memalingkan muka, menahan muntah.

Tas itu akhirnya terlepas. Saat ia menariknya, ia melihat tangan mayat yang satu lagi juga terkepal. Dari sela-sela jemarinya yang membiru, menyembul secarik kertas yang sobek dan ternoda lumpur.

Ujang ragu sejenak, lalu dengan cepat mencongkel jari-jari kaku itu. Kertas itu rapuh dan basah. Di bawah cahaya senternya yang lemah, ia melihat tulisan tangan yang panik, nyaris tidak terbaca, dan diagram-diagram aneh. Ia tidak mengerti apa pun, kecuali satu kalimat yang ditulis dengan tekanan begitu kuat hingga nyaris merobek kertas: Resonansinya terbalik. Mesin ini lapar

Firasat buruk merayap di punggungnya. Dengan cepat, ia melipatnya dan memasukkannya ke dalam tas kulit itu.

Sebelum menutupnya, ia mengintip ke dalam. Di sana, terbungkus kain beludru kotor, tergeletak bongkahan logam perak. Kamera. Bentuknya kecil dan padat, lebih ramping dari kamera biasa. Dan beberapa buku catatan bersampul cokelat tebal. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya melihat, lalu dengan jemari yang kaku, ia menarik ritsleting tas itu hingga tertutup. Bunyinya terlalu keras.

Ia tidak bisa membiarkan mayat itu terbuka. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia mendorong kembali lumpur dan sampah ke atas tubuh pria itu, menutupi wajah pucat dan kemeja putihnya.

Ia berdiri, napasnya tersengal. Ia menyampirkan tas itu di bahu. Bobotnya asing.

Bagian 3: Bisikan & Kota

Ujang bergerak menjauh dari makam darurat itu. Langkahnya berat. Ia harus bicara dengan seseorang. Suaranya sendiri sudah asing di telinganya. Di kejauhan, ia melihat kedip oranye dari api kecil. Kang Asep.

Ia menemukannya sedang berjongkok di dekat api yang dibuat dari kayu palet, asapnya berbau kimia dari sisa cat yang ikut terbakar. Asep mendongak saat Ujang mendekat, matanya yang lelah menyipit.

"Jang. Sugan teh maneh moal naek," kata Asep, suaranya serak. (Jang. Kukira kau tidak akan naik.) Ia menggeser sedikit, memberi ruang di dekat api. "Aya naon? Beungeut maneh pias kitu." (Ada apa? Wajahmu pucat begitu.)

"Mayit, Sep," bisik Ujang. Ia menunjuk dengan dagunya ke arah kegelapan di belakangnya. "Urang manggihan mayit. Di handap." (Mayat, Sep. Aku menemukan mayat. Di bawah.)

Asep tidak terkejut. Ia hanya menghela napas panjang, suara lelah yang sudah terlalu sering mendengar kabar buruk. "Lalaki? Awewe?" (Laki-laki? Perempuan?)

"Lalaki. Lain urang dieu." (Laki-laki. Bukan orang sini.)

Ujang butuh mengalihkan pembicaraan, kebohongan untuk menutupi kebenaran yang baru saja ia kubur. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka ritsleting tas kulit itu dan mengeluarkan benda perak tersebut.

"Sep, tempo," (Sep, lihat) kata Ujang, mencoba membuat suaranya terdengar ringan. Ia mengulurkan kamera itu.

Asep menerimanya, matanya melebar sedikit. "Wih, alus. Meunang di mana, Jang? Bersih keneh kieu." (Wow, bagus. Dapat di mana, Jang? Masih bersih begini.) Ia menimbang-nimbang benda itu di tangannya.

"Biasa, di tumpukan nu anyar. Kabungkus plastik rapet," (Biasa, di tumpukan yang baru. Masih terbungkus plastik rapat) ujar Ujang berbohong.

"Kira-kira payu sabaraha nya ieu di Cikapundung?" (Kira-kira laku berapa ya di Cikapundung?) tanya Ujang. Ia butuh tahu harganya.

Asep mengamati kamera itu lebih teliti. "Ah, paling ge… lima puluh rebu," katanya. "Saratus rebu mun nu meulina keur bageur." (Ah, paling juga… lima puluh ribu. Seratus ribu kalau yang belinya lagi baik hati.) Ia terkekeh pelan. "Ati-ati, Jang, bisi aya jurigna." (Hati-hati, Jang, jangan-jangan ada hantunya.)

Lelucon itu membuat Ujang sedikit tersenyum. Asep menyerahkan kembali kamera itu.

Saat jemari Ujang menyentuh badan logamnya, dunia bergeser.

Sengatan merambat naik dari tangannya. Bukan dingin. Bukan panas. Sesuatu yang lain. Otot-otot di lengannya membeku. Genggamannya pada kamera itu mengencang dengan sendirinya. Ujang tidak pernah memegang benda ini seumur hidupnya, tapi jemarinya bergerak dengan pengetahuan yang bukan miliknya. Ibu jarinya yang kanan menemukan roda gerigi kecil di sudut, dan tanpa perintah, memutarnya.

Zrrr-t.

Bunyi mekanis yang renyah dan memuaskan terdengar. Lengan Ujang terangkat, kaku, ditarik oleh benang tak kasat mata, membingkai wajah Kang Asep yang masih tersenyum di seberang api. Ibu jarinya kini melayang tepat di atas tombol rana.

Pikiran Ujang menjerit. Jangan.

Ia mencoba menurunkan tangannya, tapi ototnya terkunci, menolak perintah otaknya. Ia bisa melihat wajah Asep dengan sempurna di jendela bidik kecil itu. Seluruh kesadarannya tersedot ke dalam bingkai kecil tersebut, sementara di dalam kepalanya ada pertarungan sengit. Tangan kirinya terangkat, mencengkeram pergelangan tangan kanannya sendiri, mencoba memaksa lengan itu turun. Ototnya bergetar hebat karena menahan kekuatan dari dua perintah yang berlawanan.

Ia mengeluarkan erangan tertahan dari tenggorokannya dan dengan sekuat tenaga, ia membanting tangannya sendiri ke bawah.

"Kunaon, Jang?!" Asep terlonjak kaget melihat gerakan kasar itu.

Ujang tidak menjawab. Ia terengah-engah, menatap kamera di tangannya dengan ngeri. Ia dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam tas, menarik ritsletingnya dengan kasar.

"Urang… teu ngeunah awak, Sep," katanya, kata-kata itu keluar begitu saja. "Balik ti heula." (Aku… nggak enak badan, Sep. Pulang duluan.)

Ia berbalik dan berjalan cepat, hampir lari, meninggalkan Asep yang menatapnya dengan campuran kebingungan dan ketakutan.

Ia terus berjalan menuruni lereng gunung sampah itu. Tas kulit di punggungnya menekan tulang belakangnya. Saat ia akhirnya mencapai ujung jalan aspal yang pecah-pecah, ia berhenti, menatap lampu-lampu kota Bandung di kejauhan.

Ia tidak tahu apa sebenarnya benda yang ada di dalam tasnya itu. Ia hanya tahu satu perkara.

Di kejauhan, lampu Bandung mulai terlihat di balik kabut pagi.